Wahyu : Meski Agak Ribet, Tapi BPJS Kesehatan Sangat Membantu

0
15
Wahyu : Meski Agak Ribet, Tapi BPJS Kesehatan Sangat Membantu
Wahyu : Meski Agak Ribet, Tapi BPJS Kesehatan Sangat Membantu

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Siapa orang yang tak sedih dan bingung, ketika orang tuanya sakit ? Pasti semua anak pernah mengalami hal itu. Fakta ini pula yang dialami Moch. Wahyu Bimantoro Chan (27th), warga Gunung Anyar Harapan ZA/24 Surabaya.

“Ibu saya, Yarni (61th), sakit diabetes udah lama dan rutin untuk cek kedokter. Cuma kemarin 3 hari sebelum tgl 10 januari 2021 ibu sempet drop. Dan karena saat pandemi kita sekeluarga “parno” sama covid-19, jadi ya agak bingung juga,” ungkap Wahyu pada jatimmedia.com, Selasa (9/2/2021).

Namun, lanjutnya, karena kami kuatir dengan kondisi Ibu, akhirnya memberanikan diri membawa Ibu untuk berobat.

“Karena Ibu terdaftar di tempat kakak saya nomor 4 yaitu di daerah Girilaya Surabaya, makanya kita bawa ke faskes puskesmas Putat Jaya, soalnya terdekat disana,” lanjutnya.

Baca juga : BPJS Kesehatan Surplus Rp 18,7 Triliun Selama 2020

Namun karena kondisi Ibu drop dan faskes awal tidak bisa menangani, lebih lanjut kakak saya membawanya ke rumah sakit (RS) Wiliam Both, namun disana ditolak karena Ibu sudah lama gak kontrol dan posisi juga kondisinya ngedrop dengan kadar oksigen dibawah 90.

“Jujur, kakak saya sempet sakit hati. Tapi kita coba berfikir positif mungkin takut nantinya kena covid–19 kalo dirawat disana. Lalu kakak saya telfon saya. Karena posisi saya sedang kerja, saya arahkan ke RS Gotong Royong. Dan alhamdulillah disana tertangani tanpa ada penolakan,” terang Wahyu.

Dengan cepat, karena kakak kedua saya tinggal didaerah Medokan Sawah Timur gg 6F, akhirnya dipindahkanlah faskes data Ibu di Klinik Paradise.

“Singkat cerita, Ibu saya tertangani dengan baik. Dan kami tertolong karena sebagai peserta JKN kelas 1, semua pembiayaan Ibu ditanggung BPJS kesehatan. Saya gak tau berapa ongkos yang harus dikeluarkan kalo tidak menggunakan BPJS Kesehatan,” ujar Wahyu.

Baca juga : Seluruh Kab/Kota Jatim Akan Lakukan PPKM Berbasis RT/RW Berdasarkan Zonasi Mulai…

Kondisi Ibu, lanjut Wahyu, sangat memprihatinkan, karena waktu didiagnosa dokter, Ibu ada pendarahan otak dan stroke juga.

“Ya…. pokoknya gak tega banget lihatnya,” tambahnya.

Proses Rujukan Merepotkan

Wahyu yang bekerja sebagai announcer di PRO1 RRI Surabaya ini juga menyampaikan keluhannya terkait dengan proses rujukan yang dinilai cukup membingungkan dan merepotkan.

Proses rujukan sedikit membingungkan bagi Wahyu, karena posisi Ibu di daerah Medokan Sawah Timur setelah rawat inap di RS Gotong Royong, faskes BPJS Kesehatan Ibu kita ubah menjadi di Klinik Paradise (menggunakan aplikasi mobile JKN, red), karena mikirnya posisi klinik dan rumah kakak cukup dekat.

Baca juga : Ini Instruksi Mendagri soal PPKM Mikro Mulai 9–22 Februari

Setelah rawat inap, Bu Yarni dapat jatah untuk kontrol 1 kali ke RS Gotong Royong. Saat mengantarkan kontrol, Wahyu sempat meminta ke dokter, kalau bisa karena sudah ada rekam jejak medis disini, bisa tidak untuk kontrol selanjutnya di RS Gotong Royong saja. Tapi dokter mengarahkan kalau harus ke faskes Paradise dulu untuk minta rujukan biar bisa ke Rs Gotong Royong.

“Setelah itu kita ke klinik paradise. Tapi dari sana bilang kalau tidak bisa ke RS Gotong Royong karena harus melewati step by step aturan BPJS dan kita diarahkan ke RS Bunda Wadung Asri, setelah itu minta rujukan lagi ke RS Gotong Royong. Ternyata setelah kita minta rujukan ke RS Bunda Wadung Asri justru kita tidak bisa minta rujukan lagi ke RS Gotong Royong karena tipe rumah sakitnya sama. Ini kan lucu, berarti ada kesalahan tapi yang harus menerima resiko pasiennya,” ujar Wahyu sedikit kesal.

Karena posisi obat ibu habis jadi mau tidak mau akhirnya minta dilayani oleh RS Bunda Wadung Asri, meskipun tanpa pasien karena kondisi ibu hanya bisa terbaring dirumah. Tapi ternyata saat kontrol di RS Bunda itu pasien harus dibawa.

“Padahal waktu dapat jatah kontrol 1 kali di RS Gotong Royong sebelumnya, saya dan kakak saya sempat dimarahin dokter karena membawa pasien kembali ke RS. Jujur kami jadi agak bingung, karena sebelumnya sudah diingatkan pasien jangan dibawa karena kasian kondisi masih lemah,” terang Wahyu sambil menambahkan setelah berobat di RS Bunda, ternyata di kasih obatnya hanya 4 tablet untuk 7 hari, sementara di RS Gotong Royong obat 30 tablet untuk 30 hari.

Baca juga : PPKM Mikro di Jatim Pakai Satuan Kampung Tangguh

Karena itu, lanjut Wahyu, ada baiknya BPJS Kesehatan kembali memberikan penjelasan lebih detail pada faskes supaya tidak justru merepotkan pasien. Apalagi kondisi pandemi saat ini membuat banyak masyarakat takut ke RS.

“Sebenarnya BPJS Kesehatan pelayanannya itu baik. Hanya sistemnya yang perlu diatur lagi. Masak rujukan dari klinik di wilayah surabaya dilemparnya ke wilayah Sidoarjo. Dan lucunya lagi, saat minta rujukan waktu itu sama klinik Paradise kita diberi 2 opsi mau RS Bunda atau RS apagitu di daerah Perak, kan itu makin jauh lagi,” jelas Wahyu.

Wahyu juga menyampaikan harapannya, semoga BPJS Kesehatan bisa lebih membantu dan mempermudah semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan kesehatan.

Baca juga : Pakai Gapeka 2021 Waktu Perjalanan KA Daop 8 Surabaya Kian Singkat….

“Berat sih beban yang harus ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Tapi beban mereka setimpal dengan pahala yang diterima, karena bisa menyelamatkan dan membantu nyawa seseorang. Apa gak surga tuh balasannnya, ya kan..!!!!,” pungkas Wahyu. (JM01)