Bank Indonesia Dorong Pengembangan Model Bisnis ZISWAF dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

0
0
Bank Indonesia Dorong Pengembangan Model Bisnis ZISWAF dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren
Bank Indonesia Dorong Pengembangan Model Bisnis ZISWAF dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Bank Indonesia terus berkomitmen dalam mendorong aselerasi ekonomi syariah dalam mendukung perekonomian regional salah satunya melalui optimalisasi pemberdayaan ekonomi pesantren dan pengelolaan model bisnis ZISWAF.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah menyampaikan, pandemi Covid-19 berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa yang melambat cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2019, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Mempertimbangkan besarnya penduduk muslim di Indonesia, perkembangan ekonomi syariah sebagai upaya mendorong percepatan pemulihan ekonomi Jawa dan Nasional, diyakini sangat potensial untuk dilakukan yang bersinergi dengan pemerintah, instansi negara, maupun lembaga keuangan, hingga pesantren,” terangnya.

Sementara dari sisi Lembaga Keuangan, Wimboh Santoso selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, dalam rangka mengakselerasi pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren, maka kebijakan ekonomi syariah berbasis pesantren harus fokus pada 3 area, yaitu :

  1. Membangun sinergi dan integritas ekonomi dan keuangan syariah dalam suatu ekosistem ekonomi yang lengkap.
  2. Meningkatkan literasi dan membuka akses keuangan syariah pada masyarakat agar terbangun deman produk syariah.
  3. Adaptasi digital yang lebih luas dan massif dalam ekonomi dan keuangan syariah.

Disisi lain, dalam forum bertajuk “Peran Strategis Pesantren Dalam Perekonomian Daerah”, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak menyampaikan bahwa kinerja perbankan syariah di Jawa Timur periode Januari-Agustus 2020 masih perlu dioptimalkan. Apalagi faktor trust merupakan kunci mengoptimalkan kinerja perbankan syariah.

“Pesantren memiliki peran khusus dalam pembangunan di Jawa Timur, antara lain sebagai Pusat pendidikan ilmu keagamaan, Pusat pengembangan ilmu pengetahuan, Pusat pemberdayaan masyarakat, dan Pusat pengembangan ekonomi,” tambah Emil.

Dalam mendukung akselerasi ekonomi syariah dibutuhkan pula model bisnis ZISWAF yang mampu dioptimalisasikan penggunaannya. Hal ini disampaikan Halim Alamsyah selaku Wakil Ketua IAEI yang mengataan bahwa potensi ekonomi Syariah khususnya ZISWAF dapat dipergunakan untuk secara efektif mengerakkan perekonomian, membantu pemulihan ekonomi nasional, mengurangi kesenjangan sekaligus mengentaskan kemiskinan.

“Potensi besar dari ZISWAF perlu didukung strategi peningkatan pengumpulan ZISWAF untuk pemberdayaan Ekonomi yang tepat yaitu: Peningkatan awareness stakeholders, Penguatan ekosistem ZISWAF (termasuk SDM hingga regulasi), Penguatan integrasi kelembagaan; dan Pengembangan digitalisasi,” jelasnya.

Sedang Irfan Syauqi Beik, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa inovasi penyaluran zakat didasarkan pada dua hal yaitu pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan alat ukur program.

Pada Pemanfaatan teknologi diantaranya Smart Application, Balai Ternak Virtual, Augmented Reality, Sistem Basis data terpadu mustahik BAZNAS hingga pengembangan online. Untuk memastikan penyaluran yang high impact, karena itu diperlukan pengembangan alat ukur diantaranya indeks kesejahteraan BAZNAS, indeks pendayagunaan zakat dan indeks desa zakat.

“Melalui pemberdayaan ekonomi pesantren dan model pengelolaan dana ZISWAF tepat diharapkan dapat mendukung akselerasi ekonomi syariah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional,” jelasnya. (JM01)