
Arief menambahkan, peran Bank Jatim dalam ajang ini adalah menjadi penggerak utama (enabler) bagi UMKM agar siap naik kelas dan menembus rantai pasok yang lebih luas.
”Kami tidak hanya ingin hadir sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai enabler yang membantu membuka akses, memperluas konektivitas, dan mendorong UMKM agar semakin siap masuk ke ekosistem ekonomi yang lebih luas,” tambahnya.
Bentuk dukungan nyata Bank Jatim juga diwujudkan melalui akselerasi transaksi digital. Seluruh tenant didorong menggunakan QRIS Bank Jatim dan Bank Jatim Syariah guna mempermudah pembeli sekaligus meningkatkan inklusi keuangan digital.
Salah satu agenda krusial dalam pameran ini adalah Business Matching & Success Story yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer, HIPMI, KADIN, serta mitra internasional. Forum ini terbukti efektif—Kementerian Haji dan Umrah RI mencatat total transaksi di area expo selama tiga hari mencapai sekitar Rp 5,7 miliar, di samping terbukanya peluang kerja sama perdagangan antara pengusaha lokal dengan mitra asal Arab Saudi.
”Keberhasilan kegiatan ini tentunya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung maupun transaksi selama tiga hari. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini mampu melahirkan jejaring, peluang usaha, dan kemitraan yang dapat terus berkembang setelah acara berakhir,” terang Arief.
Menutup keterangannya, Arief menegaskan kesiapan Bank Jatim untuk terus bergandengan tangan dengan Kementerian Haji dan Umrah, Pemprov Jawa Timur, Pemkot Madiun, serta seluruh pemangku kepentingan.
“Bank Jatim siap terus bersinergi dengan Kementerian Haji dan Umrah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kota Madiun, pelaku UMKM, komunitas, dunia usaha, serta seluruh stakeholder terkait. Kami ingin bersama-sama membangun ekosistem yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat,” pungkasnya.(JM02)














