Digitalisasi dan Literasi Kunci Bank Syariah Hadapi Hegemoni Kebiasaan

0
46
Digitalisasi dan Literasi Kunci Bank Syariah Hadapi Hegemoni Kebiasaan

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Pandemi Covid-19 di Indonesia memang ternyata menjadi berkah tersendiri bagi dunia perbankan syariah. Hal ini terlihat dari performance bank syariah selama tahun 2020 ini menunjukkan tren pertumbuhan yang masih bagus.

Tapi apakah itu berarti bank syariah akan menjadi primadona bagi nasabah Indonesia ? Rasanya masih perlu kerja keras untuk membuktikan hal itu. Kenapa demikian?

Berdasar catatan sejarah berdiri dan berkembangnya sistem perbankan syariah di Indonesia yang hampir 30 tahun usianya, ternyata market share perbankan syariah masih sangat kecil dibanding bank konvensional.

Tercatat untuk aset perbankan syariah meski mengalami pertumbuhan dari tahun ketahun, tetapi masih terhitung kecil karena per-Juli 2020 hanya berada di angka 6,11% dibanding perbankan konvensional yang mencapai angka 93,89%.

Begitu juga untuk masalah kredit atau pembiayaan, posisi perbankan syariah ada di 6,71% (per Juli 2020, red), sangat jauh dibanding perbankan konvensional yang berada di angka 93,29% (table 1).

Market Share Perbankan Syariah
Market Share Perbankan Syariah

Padahal kalau melihat potensi pangsa Syariah di Indonesia (dengan mayoritas muslim, red), bisa mencapai 44% atau 100 juta penduduk Indonesia percaya bahwa prinsip syariah merupakan salah satu preferensi yang penting didalam hidup mereka.

Hegemoni kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih yakin dengan bank konvensional dan rendahnya tingkat literasi inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi bank syariah dalam membuktikan dirinya untuk memperbesar market share, seperti yang sudah terjadi di banyak negara lain di dunia.

Hal ini diakui Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Toni E.B. Subari yang menyampaikan bahwa masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan terutama keuangan syariah, menjadi tantangan besar bagi perbankan syariah.

“Saat ini perbankan syariah masih memiliki potensi yang lebih besar di Indonesia. Indeks literasi bank syariah sebesar 8,11%, dan indeks inklusi sebesar 11,06%. Sementara indeks literasi bank nasional sebesar 29,66%, dengan indeks inklusi sebesar 67,82%. Potensi ini adalah tantangan yang besar bagi perbankan syariah,” jelas Toni saat workshop virtual dengan jurnalis nasional dan daerah, beberapa waktu lalu.

Karena itu, lanjut Toni, peningkatan literasi perbankan syariah menjadi tantangan bagi perbankan syariah, termasuk Mandiri Syariah. Karena peningkatan literasi ini diharapkan akan berbanding lurus dengan inklusi perbankan syariah kedepannya.

“Intinya adalah penguatan SDM, penguatan kemampuan untuk menarik investasi atau modal di market, penguatan teknologi sebagi core banking dan tentu saja literasi yang lebih mendalam ke pasar,” ujar Toni yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Mandiri Syariah.

Digitalisasi dan Literasi Kunci Bank Syariah Hadapi Hegemoni Kebiasaan
Dirut Mandiri Syarian dan Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Toni E.B. Subari

Presiden Tekankan Pentingnya Literasi Perbankan

Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas Strategi Nasional Keuangan Inklusif di Kantor Presiden beberapa waktu lalu, mendorong lembaga keuangan, terutama perbankan, untuk mengadakan sejumlah program peningkatan inklusi keuangan dan mengembangkan lebih jauh produk dan kualitas layanan mereka di Indonesia.

Apalagi menurut Presiden Jokowi, saat ini kebiasaan masyarakat telah mulai berubah seiring dengan perkembangan teknologi.

“Lembaga keuangan harus melihat hal tersebut dengan memfokuskan pada layanan digital berbasis internet. Dan ini sangat didukung oleh tingkat penetrasi pengguna internet yang relatif tinggi yaitu 64,8 persen atau kurang lebih sekarang 170 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia,” kata Presiden.

Sejalan dengan keinginan Presiden, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mendorong sinergi program antar stakeholder keuangan digital untuk mengembangkan keuangan syariah inklusif di pondok pesantren (ponpes) dan lembaga pendidikan.

Hal tersebut dilakukan pihak kementerian sebagai bagian dari Program Reset dan Transformasi Ekonomi dalam mempercepat program pemulihan ekonomi nasional.

“Sinergi program keuangan digital merupakan pendekatan hulu hingga hilir berbasis keuangan digital,” terang Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, melalui rilisnya beberapa waktu lalu.

Termasuk salah satunya adalah melalui iPesantren, dimana dengan iPesantren diharapkan dapat mengakselerasi peningkatan keuangan syariah dan inklusif di ponpes dan lembaga pendidikan, serta masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Ponpes memiliki potensi besar dalam mendukung program unggulan ekonomi nasional,” katanya.

Mandiri Syariah Fokus Kembangkan Digitalisasi

Toni juga menegaskan bahwa digitalisasi menjadi semakin penting dan wajib bagi perbankan syariah untuk memenuhi kebutuhan nasabah.

“Kondisi pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk berinovasi sekaligus mengoptimalkan teknologi digital,” tambahnya.

Sementara Direktur IT, Operations & Digital Banking Mandiri Syariah, Achmad Syafii menambahkan, Mandiri Syariah terus menjalankan proses digitalisasi produk dengan fokus kepada customer (customer centric) untuk memenuhi kebutuhan nasabah terlebih di tengah situasi pandemi covid19.

“Kami gencar melakukan transformasi layanan digital dan mengimplementasikan dalam aplikasi Mandiri Syariah Mobile, Net Banking, maupun layanan digital branch. Semua ini fokusnya adalah memberikan solusi dan kemudahan bagi nasabah,” terangnya.

Dalam transformasi digital Mandiri Syariah, lanjut Syafii, digital banking memainkan peranan besar, terutama dalam akuisisi nasabah baru yang mencapai 40% dan transaksi sebesar 95% melalui digital.

“Tercatat hingga 19 September 2020, terdapat 1,4 juta user Mandiri Syariah Mobile, dan sebanyak 1.500 rekening per hari yang dilakukan melalui aplikasi tersebut,” tambah Syafii.

Sementara Toni juga menegaskan, selain digitalisasi, kunci dari perkembangan Perbankan Syariah adalah bagaimana masing-masing perbankan syariah bisa berfokus pada strategi yang customer-centric dan terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan tentu berijtihad dengan tetap mengikuti Maqashid Syariah.

“Mandiri Syariah telah membuktikan bahwa digitalisasi dan fokus customer-centric bisa menopang kinerja, terlebih pada saat pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung seperti saat ini,” pungkas Toni. (JM01)