Mahasiwa ITS Gagas I-Mask untuk Minimalisir Penularan Covid-19

0
72
Mahasiwa ITS Gagas I-Mask untuk Minimalisir Penularan Covid-19
Mahasiwa ITS Gagas I-Mask untuk Minimalisir Penularan Covid-19

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Indonesia dinyatakan sebagai negara urutan pertama di Asia Tenggara dengan jumlah kematian terbanyak karena Covid-19. Hal tersebut membuat duet tim mahasiswa Departemen Teknik Elektro dan Departemen Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berinisiatif untuk menurunkan jumlah kematian Covid-19 melalui inovasi I-Mask.

Tim I-Mask yang terdiri dari lima mahasiswa ini, berhasil menggagas sebuah sistem pendeteksi masker dengan menggunakan Machine Learning dan terintegrasi dengan Internet of Thing (IoT) untuk memantau penggunaan masker di suatu tempat yang diberi nama I-Mask.

Selaku ketua tim, Rahmadilla Primasiwi Nugraha atau biasa disapa Dilla mengatakan, rata-rata jumlah orang positif Covid per harinya di Indonesia mencapai 5.712 jiwa. Hal ini, menurutnya, menjadikan penggunaan masker saat ini sangat penting karena dapat memproteksi diri dari penyebaran virus.

“Namun sayangnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengenakan masker hanya sekitar 59,32 persen. Angka ini cukup kecil. Karena itulah muncul ide untuk menggagas I-Mask ini sebagai upaya penyadaran masyarakat,” ungkapnya.

Baca juga : Vaksinasi dan Prokes Solusi Percepat Pemulihan Kesehatan dan Ekonomi  

Dilla juga menjelaskan, I-Mask ini dirancang dengan maksud agar dapat meminimalisir penularan Covid-19, mendukung penerapan kehidupan normal baru yang sekarang sedang berjalan sekaligus mengingatkan pentingnya penggunaan masker. Selain itu, I-Mask juga dapat memfasilitasi pemerintah dalam mempermudah proses monitoring penggunaan masker masyarakat di suatu tempat.

Dipaparkan Dilla, cara kerja dari I-Mask sendiri diawali dari proses pendeteksian oleh sistem apakah orang tersebut mengenakan masker atau tidak. Video deteksi ini nantinya akan terkirim ke sebuah cloud server yang terintegrasi dengan sebuah aplikasi. Sehingga orang yang tidak mengenakan masker akan terdeteksi dan tidak dapat memasuki ruang yang dirancang terintegrasi dengan pintu otomatis.

“Jadinya pintu hanya terbuka bagi yang memakai masker dan alarm berbunyi bagi yang terdeteksi tidak memakai masker,” sambung mahasiswi asal Malang ini.

Baca juga : BSI Raih The World’s Best Banks 2021 versi Forbes

Menariknya, lanjut Dilla, aplikasi I-Mask ini memiliki beberapa fitur yang memberikan informasi mengenai kondisi suatu tempat. Mulai dari jumlah pengunjung, laporan mingguan dari jumlah pengunjung tempat tersebut, lokasi sistem I-Mask terpasang, live update dari camera capture, hingga data statistik yang menunjukkan kondisi dari tempat tersebut.

“Sehingga pengunjung tahu apakah tempat tersebut telah memenuhi standar protokol kesehatan atau belum,” jelasnya.

I-Mask ini di klaim memiliki berbagai macam keunggulan, seperti memudahkan dalam memonitoring penggunaan masker di suatu tempat. Selain itu, harga produksi dan perawatan dari I-Mask tidak terlalu mahal, waktu operasi sistem 24 jam sehingga pemantauan datanya real-time, hemat ruang dan sangat praktis.

Dan kerja keras tim I-Mask tersebut telah berhasil membuahkan prestasi yang membanggakan. Inovasi yang berjudul I-Mask: Mask Detection System using Machine Learning and Integrated with IoT for Monitoring the Use of Masks in a Place dengan sukses mengantarkan tim ini sebagai juara pertama pada International IoT Challenge 2021.

Baca juga : Pemkot Surabaya Keluarkan SE Bagi Perusahaan Untuk melakukan Tes Swab PCR…

Ke depan, I-Mask akan dilakukan pengembangan lebih lanjut agar inovasi ini bisa lebih sempurna dan dapat benar-benar diproduksi untuk membantu bangsa Indonesia dalam mengurangi penyebaran Covid-19 dan memberi rasa aman bagi mereka dalam kehidupan normal baru. (JM01)