Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, melakukan kunjungan kerja untuk memantau langsung pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Kampus 2 Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Rabu, 22 April 2026. Kehadiran beliau bertujuan untuk memastikan seluruh tahapan seleksi berjalan sesuai prosedur dan menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Dalam tinjauannya, Wamen Atip menyampaikan bahwa pelaksanaan UTBK hari kedua di Unesa secara umum berlangsung tertib. Meskipun demikian, beliau memberikan perhatian khusus terhadap temuan praktik perjokian yang berhasil diidentifikasi pada hari pertama pelaksanaan ujian (21/04).
“Kasus tersebut melibatkan pemalsuan identitas. Ini adalah pelanggaran serius yang harus diproses secara tegas. Tidak hanya joki, tetapi peserta yang menggunakan jasa joki juga akan dikenai sanksi berat berupa diskualifikasi hingga konsekuensi hukum pidana atas pemalsuan dokumen,” tegas Wamen Atip.
Lebih jauh lagi, pakar hukum internasional tersebut menambahkan bahwa pelaku kecurangan akan kehilangan haknya untuk mengikuti jalur seleksi mandiri. Bahkan, jika praktik curang tersebut baru terungkap setelah peserta resmi menjadi mahasiswa, Unesa memiliki kewenangan untuk melakukan pemberhentian secara tidak hormat.
Keberhasilan deteksi dini ini tidak terlepas dari langkah inovatif Unesa dalam memanfaatkan teknologi. Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk menggagalkan praktik perjokian tersebut. Sistem AI mampu mengidentifikasi kemiripan wajah hingga tingkat akurasi 95 persen pada dua data pendaftaran yang berbeda.
“Tim kami mencurigai adanya penggunaan foto lama dari pendaftaran tahun sebelumnya yang digunakan kembali dengan identitas berbeda tahun ini. Analisis AI membantu kami melakukan verifikasi data secara presisi sebelum ujian berlangsung,” ungkap Martadi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku diketahui direkrut oleh jaringan tertentu dan dipersenjatai dengan dokumen palsu, mulai dari KTP hingga ijazah yang fotonya telah dimanipulasi namun memiliki stempel basah yang tampak autentik. Sebagai langkah verifikasi, pihak Unesa juga telah melakukan pengecekan silang ke sekolah asal peserta guna memastikan adanya manipulasi data tersebut.
Martadi mengimbau seluruh peserta agar tetap percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak tergiur oleh tawaran instan dari pihak mana pun. Ia menekankan bahwa sistem seleksi saat ini telah dilengkapi pengawasan yang sangat ketat, sehingga integritas dan persiapan matang adalah satu-satunya jalan menuju kelulusan.
Dengan pengawasan yang semakin canggih, peserta diharapkan tetap fokus pada ujian dan tidak mempertaruhkan masa depan mereka dengan tindakan ilegal yang berujung pada sanksi akademik maupun hukum yang berat.(JM02)















