
Sinergi multimoda ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas tingginya biaya logistik nasional, yang saat ini masih bertengger di angka 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Melalui kombinasi kereta api dan kapal laut, waktu pengiriman bisa dipangkas, keandalan barang lebih terjamin, dan pelacakan (tracking) komoditas menjadi lebih transparan.
Selain efisiensi jalur darat-laut, optimalisasi kapasitas transhipment di Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadi sorotan. Dengan kemampuan memindahkan muatan antar-kapal yang mumpuni, Indonesia bisa menyerap lebih banyak arus petikemas internasional di dalam negeri tanpa harus bergantung pada pelabuhan negara tetangga.
“Dengan meningkatnya kemampuan transhipment di pelabuhan nasional, semakin banyak arus petikemas internasional yang dapat dikonsolidasikan di dalam negeri. Hal ini akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan usaha dan investasi di sektor logistik,” jelas Yuli Sri Wilanti.
Meski potensinya besar, forum mencatat beberapa tantangan yang harus segera diselesaikan bersama, mulai dari penyesuaian tarif angkutan kereta logistik agar lebih kompetitif, penyelarasan kebijakan fiskal, perbaikan teknis jalur rel menuju terminal, hingga penguatan infrastruktur di koridor utama.
Merespons tantangan tersebut, Direktur Utama TPS, Wahyu Widodo, menegaskan kesiapan penuh jajarannya untuk merealisasikan target pemerintah melalui peningkatan fasilitas di lapangan.
Ia menyatakan komitmen TPS dalam mendukung pengembangan layanan multimoda internasional dan transhipment melalui peningkatan konektivitas antarmoda – dengan tersedianya jalur rel kereta api logistik sampai di dalam area kerja terbatas TPS, efisiensi operasional dengan peremajaan alat-alat bongkar muat utama & elektrifikasi serta kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Melalui langkah modernisasi dan elektrifikasi alat bongkar muat ini, TPS tidak hanya mengejar kecepatan durasi bongkar muat, namun juga bertransisi menuju operasional pelabuhan yang lebih hijau dan ramah lingkungan.
Sebagai anak usaha PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) di bawah payung Pelindo Grup, TPS memiliki rekam jejak panjang sebagai pelopor standar keamanan ISPS Code sejak 2004. Pasca-mergernya Pelindo pada 2021 lalu, standarisasi layanan di TPS terus digenjot demi mengukuhkan posisi Pelaboran Tanjung Perak sebagai gerbang utama perdagangan dan hub logistik untuk kawasan Indonesia bagian timur. (JM02)














