TikTok Luncurkan Whitepaper tentang Keamanan Siber di Indonesia

0
18
TikTok Luncurkan Whitepaper tentang Keamanan Siber di Indonesia
TikTok Luncurkan Whitepaper tentang Keamanan Siber di Indonesia (istimewa)

Jakarta, JATIMMEDIA.COM – Bertepatan dengan bulan keamanan siber dunia yang jatuh pada bulan Oktober, TikTok mendukung penyusunan whitepaper oleh Center for Digital Society (CfDS) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Onno Center, lembaga think tank dari Indonesia untuk sektor teknologi dan komunikasi.

Berdasarkan survei JakPat, 7 dari 10 orang mengklaim COVID-19 merupakan game changer dimana perpindahan aktivitas luring ke daring menjadi salah satu perubahan besar yang dialami. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas di internet di masa pandemi, risiko terjadinya serangan siber juga harus tetap diwaspadai.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan selama semester 1 di tahun 2020, terdeteksi sekitar 149.783.617 serangan siber ke Indonesia dan meningkat lima kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2019.

Anisa Pratita Kirana Mantovani, Research Manager CfDS mengatakan, perpindahan aktivitas ke ranah digital yang kemungkinan besar tetap terjadi setelah pandemi berakhir ini, menuntut masyarakat untuk semakin meningkatkan literasi digitalnya, terutama dalam hal keamanan..

“Penyusunan whitepaper turut dilandasi oleh tujuan tersebut, untuk memberdayakan para pengguna dalam mencegah dan menghadapi serangan siber, dan bagaimana para pemangku kepentingan lainnya dapat mengambil perannya,” terangnya, Rabu (21/10/2020).

Sementara Onno W. Purbo, ahli teknologi informasi yang giat menyuarakan literasi digital sekaligus pendiri Onno Center, turut mengamini rekomendasi yang diberikan di dalam whitepaper ini.

“Serangan siber memiliki dampak yang sangat besar, baik untuk perusahaan maupun untuk pengguna, belum lagi jika urusan pemerintah terlibat. Di tengah pandemi yang mendorong kita untuk serba digital ini, kolaborasi antar pemangku kepentingan itu perlu terus disuarakan dan diwujudkan,” ujarnya.

Whitepaper berjudul “Pentingnya Kemitraan untuk Memperkuat Keamanan Siber Indonesia” menyorot tren utama yang saat ini dan akan terjadi di dunia keamanan siber, serta sejumlah rekomendasi untuk memperkuat keamanan siber, antara lain:

  • Data McKinsey menunjukkan bahwa selama pandemi COVID-19, rata-rata orang Indonesia menggunakan perangkat selama 6 jam sehari.
  • Survei berjudul “Higher Education 4.0 dan the Readiness of Indonesia’s Future Workforce” yang dilakukan oleh CfDS pada tahun 2019 mencatat bahwa mahasiswa Indonesia mendapatkan skor rendah dalam hal memeriksa fitur dan konfigurasi keamanan di perangkat mereka secara reguler.
  • Rekomendasi yang diberikan, yaitu:
    • Pemerintah melanjutkan kepemimpinan di dalam transformasi digital, menciptakan regulasi yang sejalan dengan industri;
    • Pentingnya transparansi di tingkat perusahaan tentang kebijakan dan praktik keamanan siber, agar dapat memberikan keyakinan kepada pemangku kepentingan;
    • Peningkatan sumber daya melalui riset dan pengembangan, serta mempercepat literasi digital untuk memberdayakan pengguna dalam hal keamanan digital;
    • Kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk bersama-sama melindungi dunia siber.

Dukungan TikTok terhadap penyusunan whitepaper ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus membangun lingkungan yang aman dan nyaman kepada pengguna.

“Kita ada di posisi terkuat saat bekerja bersama. Kami berkomitmen untuk membangun lingkungan yang nyaman kepada para pengguna, selagi melindungi keamanan platform kami dari tantangan industri. Kami ingin pengguna mendapatkan pengalaman internet yang terbaik, yang berarti bisa berkreasi dengan aman. Karena itulah, keamanan pengguna menjadi prioritas kami,” kata Arjun Narayan, Director of Trust & Safety, TikTok APAC. (JM01)