Surabaya, JATIMMEDIA.COM — Masalah sampah yang menumpuk masih menjadi tantangan besar bagi lingkungan. Berangkat dari kondisi tersebut, edukasi menjaga bumi dinilai perlu ditanamkan sejak usia dini agar kelak menjadi kebiasaan hidup sehari-hari.
Melihat pentingnya pendekatan yang relevan dengan dunia anak, Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, mahasiswa program studi D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), merancang sebuah buku ilustrasi interaktif bertajuk “Zuan dan Wony: Petualangan 5R”. Buku ini dihadirkan sebagai media edukasi gaya hidup zero waste yang ditujukan khusus bagi siswa sekolah dasar.
Proyek yang dikembangkan sebagai tugas akhir sekaligus media pembelajaran dalam program SIER Mengajar 1 ini menggabungkan cerita visual, interaksi fisik, dan elemen teknologi digital.
Tabitha menjelaskan, gagasan pembuatan buku “Zuan dan Wony: Petualangan 5R” berangkat dari kebutuhan menghadirkan media pembelajaran lingkungan yang sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar. Menurutnya, isu ekologi sering kali memiliki konsep yang kompleks sehingga membutuhkan penyampaian kreatif agar lebih mudah diterima oleh anak.
“Desain grafis memiliki kekuatan luar biasa untuk menyederhanakan isu ekologi yang kompleks menjadi petualangan visual yang taktil dan mudah dipahami oleh kognisi anak-anak,” ungkap Tabitha.

Melalui dua karakter utama, Zuan dan Wony, para siswa diajak berpetualang memahami prinsip 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (membagankan/membusukkan).
Kelima konsep tersebut dikemas dalam alur cerita yang interaktif sehingga pembelajaran mengenai pengurangan sampah terasa lebih dekat dengan pengalaman anak.
Daya tarik buku ini terletak pada konsep fisiknya yang dirancang interaktif dengan fitur buka-tutup halaman yang dapat disentuh langsung oleh anak. Selain itu, terdapat pula QR Code yang terhubung ke konten digital berupa permainan edukatif untuk memperkuat pengalaman belajar.
Tak berhenti pada media cetak dan digital, Tabitha juga melengkapi kampanye edukasi ini dengan berbagai media pendukung. Di antaranya adalah video animasi motion graphic, strategi konten media sosial, hingga merchandise fungsional seperti tas bekal dan perangkat berkebun.
Beragam media pendukung tersebut dirancang agar pesan zero waste dapat diterapkan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui pendekatan ini, edukasi lingkungan memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun kebiasaan positif sejak sekolah dasar.
Melalui inovasi ini, Tabitha berharap anak-anak dapat mengenal gaya hidup ramah lingkungan sejak dini dan menerapkannya dalam keseharian. Karya ini menjadi bukti bahwa desain dapat berfungsi sebagai sarana edukasi yang mendorong perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan. (JM02)















