Home Ekonomi Bisnis Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah dan Jaga Tren Positif Ekonomi Jatim

Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah dan Jaga Tren Positif Ekonomi Jatim

0
3
Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah dan Jaga Tren Positif Ekonomi Jatim
Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah dan Jaga Tren Positif Ekonomi Jatim

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah tengah membayangi perekonomian global. Hambatan pada jalur perdagangan strategis memicu lonjakan harga minyak dunia, memperlambat pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,0% (yoy) dari tahun lalu yang sebesar 3,4% (yoy), hingga melambungkan inflasi global. Imbasnya, ruang penurunan kebijakan moneter dunia kian menyempit.

Meski menghadapi tekanan eksternal yang berat, perekonomian Indonesia justru menunjukkan performa yang tangguh. Kondisi ini dipaparkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, dalam Media Briefing Triwulan II bertema “Sinergi Memperkuat Stabilitas untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi Jawa Timur dalam Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri” di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Senin (22/06).

“Namun, perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan dengan perkembangan inflasi IHK yang terkendali pada kisaran 2,5±1%,” ujar Ibrahim.

Ketangguhan domestik terbukti lewat pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 yang mampu melesat di angka 5,61% (yoy). Akselerasi ini ditopang kuat oleh tingginya konsumsi rumah tangga serta lonjakan belanja pemerintah yang signifikan.

“Inflasi IHK tetap terjaga pada kisaran target 2,5±1% berkat konsistensi kebijakan moneter dan koordinasi TPIP – TPID,” urai Ibrahim.

Guna membentengi nilai tukar Rupiah dari tingginya volatilitas pasar global, Bank Indonesia terus mempertebal kebijakan stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter. Langkah strategis yang diambil antara lain menaikkan BI Rate menjadi 5,75%, Suku Bunga Deposit Facility (DF) sebesar 4,75%, dan Suku Bunga Lending Facility (LF) di level 6,50%.

Di tingkat regional, performa ekonomi Pulau Jawa pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,79% (yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Momentum festive season (hari besar keagamaan) mendongkrak konsumsi rumah tangga, sementara realisasi program prioritas memacu konsumsi pemerintah.

BACA JUGA  Bank Jatim Selenggarakan Pengundian Kredit Multiguna Berhadiah Umroh

Melihat dari peta lapangan usaha, sektor perdagangan tumbuh subur di angka 5,49% (yoy). Di sisi lain, sektor industri pengolahan mengalami perlambatan di level 4,40% (yoy) akibat imbas eskalasi geopolitik global.

Khusus untuk Jawa Timur, pertumbuhan ekonominya tampil impresif pada Triwulan I 2026 dengan mencapai 5,96% (yoy). Lonjakan ini digerakkan oleh kombinasi solid antara konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah, yang mampu menambal perlambatan di sektor ekspor.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Jawa diprakirakan masih tetap kuat dengan dukungan konsumsi rumah tangga dan investasi,” tegas Ibrahim.

Terkait inflasi, Pulau Jawa membukukan inflasi sebesar 0,19% (mtm) dan 2,91% (yoy) pada Mei 2026, yang berarti masih aman di dalam target sasaran. Kenaikan harga pupuk, plastik, serta anomali cuaca sempat mengerek harga komoditas hortikultura sebagai pendorong utama inflasi bulan lalu. Namun, lewat sinergi erat TPIP-TPID, inflasi ke depan diyakini akan tetap terkendali.

Selain memaparkan outlook ekonomi, KPw BI Jawa Timur juga mengumumkan agenda akbar tahunan yang patut dinantikan, yaitu Java Coffee & Flavor Fest (JCFF) 2026 pada 17–19 Juli mendatang.

Memasuki tahun kelima pelaksanaannya sejak dirintis pada 2022—yang awalnya bertajuk Java Coffee Culture (JCC)—high level event ini berkomitmen memperkenalkan nilai, sejarah, serta filosofi kopi Jawa yang memiliki kontribusi besar bagi komoditas kopi nasional. Gelaran JCFF 2026 ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang nantinya berpusat di Jakarta. (JM02)