BPJS Kesehatan Jelaskan Soal Dugaan Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia

0
165
BPJS Kesehatan Jelaskan Soal Dugaan Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia
BPJS Kesehatan Jelaskan Soal Dugaan Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia

Jakarta, JATIMMEDIA.COM – Baru-baru ini dunia maya sedang ramai membicarakan soal kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia. Dan data yang diklaim milik 279 juta penduduk Indonesia ini dijual di sebuah forum online bernama Raid Forums, oleh seorang anggota forum dengan akun “Kotz”.

Salah seorang pengguna Twitter dengan handle @Br_AM coba menghubungi sang penjual dan menanyakan, dari mana data tersebut diperoleh. Dan dari tangkapan layar percakapan @Br_AM dan penjual, diklaim bahwa dataset tersebut diambil dari situs bpjs-kesehatan.go.id.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan, sampai bulan Mei 2021, jumlah peserta BPJS Kesehatan adalah 222,4 juta jiwa. Karena itu pula, BPJS Kesehatan saat ini sedang melakukan penelusuran untuk memastikan apakan benar data tersebut berasal dari BPJS Kesehatan.

“Kami sudah mengerahkan tim khusus untuk sesegera mungkin melacak dan menemukan sumbernya. Dan kami konsisten untuk memastikan keamanan data peserta,” kata Iqbal, Kamis (20/5/2021).

Baca juga : Kini Perubahan Nama Dan Layanan Lain, Bisa Dilakukan di Kecamatan. Ini…

Dengan big data kompleks yang tersimpan di server BPJS, lanjut Iqbal, pihaknya memiliki sistem pengamanan data yang ketat dan berlapis sebagai upaya menjamin kerahasiaan data tersebut, termasuk di dalamnya data peserta JKN-KIS.

“Kami juga secara rutin melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memberikan perlindungan data yang lebih maksimal,” tambahnya.

Disisi lain, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan pendalaman atas kasus kebocoran data pribadi tersebut.

“Kementerian Kominfo sedang melakukan pendalaman atas dugaaan kebocoran data tersebut,” kata Johnny melalui pesan singkat.

Baca juga : Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal di Provinsi Riau

Sementara Juru Bicara Kemenkominfo, Dedy Permadi menjelaskan, hingga Kamis (20/5/2021) malam, pukul 20.00 WIB, belum dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kebocoran data pribadi dalam jumlah yang masif seperti yang diduga.

“Kesimpulan ini diambil setelah dilakukan beberapa tahap pemeriksaan secara hati-hati terhadap data yang beredar,” terang Deddy.

Data yang bocor Di dalam deskripsinya, penjual mengatakan bahwa data tersebut berisi NIK, nomor ponsel, e-mail, alamat, dan gaji. Data tersebut termasuk data penduduk yang telah meninggal dunia. Dari data 279 juta orang tersebut, 20 juta di antaranya disebut memuat foto pribadi.

Adapun dataset tersebut dijual dengan harga 0,15 bitcoin, atau sekitar Rp 84,4 juta. Penjual juga menyertakan tiga tautan berisi sampel data yang bisa diunduh secara gratis.

Baca juga : Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Gubernur Khofifah Instruksikan Prioritas Vaksin untuk Guru

Namun dari informasi yang diperoleh, sangat banyak pula data yang tidak cocok dan tidak teridentifikasi, ketika ditelusuri dengan mesin pencarian. Karenanya, belum bisa dipastikan soal keabsahan data-data tersebut. (JM01)