
Dengan potensi yang dinilai masih sangat bagus, Komisaris Utama MSIE, Agustina Felisia Willeam menyebut bahwa pertumbuhan bisnis pada tahun 2026 ini akan tetap berada dalam tren positif.
“Selain proyek Canggu, Perseroan juga mengoptimalkan lahan sewaan di Bali yang diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan (capital inflow) sekitar Rp60 juta per bulan dan secara umum menargetkan pertumbuhan bisnis sekitar 8 persen hingga akhir tahun 2026 seiring dengan bertambahnya aset produktif perusahaan,” jelas Agustina.
Agustina juga menyampaikan, untuk mendukung target tersebut, MSIE menyiapkan belanja modal (capex) tahun ini yang kini masih dalam tahap perhitungan dan evaluasi. Perseroan juga membuka peluang kerja sama dengan institusi pendidikan domestik maupun luar negeri yang berencana melakukan ekspansi ke Bali.
Secara berkelanjutan, manajemen telah menetapkan lima strategi utama: Diversifikasi Portofolio Properti Pendidikan, Penguatan Hubungan Jangka Panjang dengan Penyewa, Penjajakan Kerja Sama Internasional, Peningkatan Kualitas Fasilitas, serta Pengembangan Proyek di Wilayah Strategis.
Meskipun MSIE tidak bergerak langsung sebagai pengelola institusi akademik, Tanu menekankan bahwa penyediaan infrastruktur sarana dan prasarana yang berkualitas memegang peran penting dalam mendukung pendidikan Nasional yang sekaligus menjadi komitmen nyata perusahaan dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Kami menyadari penyediaan infrastruktur juga menjadi salah satu hal yang penting. Ini menjadi tantangan bagi kami agar sarana pendidikan dapat terimplementasi merata, tidak hanya di kota-kota besar,” tutur Tanu.
Guna mengawal target di tengah fluktuasi harga material global dan kenaikan biaya operasional, Tanu Widjaja menyampaikan bahwa manajemen menerapkan prinsip kehati-hatian (prudence) serta efisiensi ketat demi menjaga arus kas (cash flow). Langkah ini dilakukan lewat pengawasan dan pemeliharaan periodik agar operasional berjalan dengan biaya paling minim (low cost).
“Selain itu, mutu infrastruktur harus dipastikan berstandar tinggi sejak awal. Dengan bangunan yang kokoh dan tidak asal-asalan, perseroan dapat meminimalkan kebutuhan perbaikan besar sehingga biaya perawatan (maintenance cost) jangka panjang menjadi sangat minim dengan tetap mengantisipasi berbagai risiko usaha yang lainnya,” pungkas Tanu.
Melalui kombinasi strategi ini, MSIE optimistis mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan. (JM02)














