Ekspor Nonmigas Jatim Januari Turun 9,18 %  

0
3
Ekspor Nonmigas Jatim Januari Turun 9,18 %  
Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Kinerja ekspor nonmigas Jawa Timur pada Januari 2021, seperti disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tercatat mengalami penurunan -9,18 persen dibandingkan Desember 2020.

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan, nilai ekspor nonmigas Jatim pada Januari 2021 adalah US$1,38 miliar atau turun -9,18 persen dibandingkan Desember 2020 yakni US$1,52 miliar.

Baca juga : Terima Donasi 1,6 Milyar, Mensos Risma Tantang Aplikasi Super

“Sementara bila dibandingkan periode yang sama 2020 yang mampu mencapai US$1,76 miliar, kinerja ekspor nonmigas Jatim pada Januari ini juga turun -21,40 persen,” ungkapnya di dalam paparan neraca perdagangan Jatim, Senin (15/2/2021).

Dadang juga menjelaskan, penurunan kinerja ekspor non migas ini sejalan dengan kondisi pandemi panjang yang menimpa seluruh dunia. Termasuk kinerja impor nonmigas Jatim pun juga mengalami penurunan -9,51 persen (yoy), yakni US$1,40 miliar pada Januari 2021, dan impor Januari 2020 sebesar US$1,54 miliar.

Baca juga : Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Tukul Pacitan Didampingi Gubernur Khofifah

“Penurunan ekspor secara month to month ini juga terjadi pada sektor migas, yakni US$0,26 miliar pada Januari 2020 menjadi US$0,15 miliar pada Januari 2021,” lanjut dadang.

Beberapa sektor nonmigas yang berkontribusi 90,14 persen dari total ekspor Jatim ini, lanjutnya, semuanya mengalami penurunan kinerja pada Januari 2021. Seperti sektor pertanian hanya tercapai US$105,33 juta (turun -30,67 persen – mtm), sektor industri pengolahan US$1,27 miliar (turun -6,72 persen), dan sektor pertambangan US$1,99 juta (turun -39,94 persen).

Baca juga : Ingin Klaim Tetap Diterima Bila Mobil Terendam Banjir. Ini Caranya

“Seluruh sektor usaha dari pertanian, industri pengolahan sampai pertambangan juga mengalami penurunan cukup tajam di atas 19 persen. Baik secara bulan per bulan, maupun dibandingkan tahun ke tahun,” terangnya.

Adapun beberapa golongan barang yang mengalami peningkatan ekspor adalah tembaga, perhiasan, mesin, sisa industri makanan dan alas kaki. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan ekspor yakni kendaraan dan bagiannya, ikan dan udang, kopi, teh dan rempah, kayu dan barang dari kayu serta lokomotif dan peralatannya.

Baca juga :

Sementara negara tujuan ekspor tertinggi adalah ke Jepang sebesar US$245,70 juta atau berkontribusi 17,75 persen, disusul AS US$223,27 juta atau 16,13 persen, China US$122,26 juta atau 8,83 persen, serta Malaysia 8,16 persen, Vietnam 5,07 persen, India 4,78 persen, Thailand 3,69 persen, Korea Selatan 3,5 persen, Belanda 2,6 persen dan Australia 2,51 persen. (JM01)