
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah LPPM Unesa, Mufarrihul Hazin, menjelaskan fokus utama penilaian UVA 2025. Penilaian mendalami isu ketahanan pangan melalui lima indikator penting: inovasi pangan, ketersediaan pangan, akses pangan, kebermanfaatan dan peningkatan gizi, serta keberlanjutan program.
“Tahun ini adalah penyelenggaraan ketiga. Para finalis yang hadir merupakan inovator terbaik dari seleksi panjang dan kompetitif. Ke depan, mereka akan menjadi role model bagi desa lainnya. Tahun 2026, tema besar UVA adalah pengembangan ekonomi desa melalui koperasi merah putih dan Bumdes,” jelasnya.
Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Pedesaan Kemendes PDTT RI, Andrey Ikhsan Lubis. Menurutnya, tema yang diusung sangat strategis. “Masa depan ketahanan pangan Indonesia bukan di gedung-gedung ibu kota, tetapi di sawah, kebun, pekarangan, dan hutan desa. Para petani, nelayan, ibu-ibu penggerak pangan lokal, dan pemerintah desa adalah kekuatan sebenarnya,” tegasnya.
Pada sesi final tersebut, peserta dinilai jajaran dewan juri yang terdiri dari Tatak Setiadi (Tim Adhoc Pusat Pengembangan Desa dan Daerah LPPM Unesa), Isnawati (Wakil Dekan I Fakultas Ketahanan Pangan Unesa), dan Lucky Kusuma Wardani (Kemendes PDTT RI)
Adapun tiga desa terbaik versi Unesa Village Awards 2025 yaitu; Juara 1: Desa Lutan Mahakan Ulu, Kalimantan Timur; Juara 2: Desa Cibiru Wetan, Bandung; dan • Juara 3: Desa Sumbersari, Lamongan, Jawa Timur.
Rangkaian acara ditutup dengan penandatanganan kerja sama program swasembada pangan desa binaan Unesa. Kolaborasi ini menegaskan bahwa UVA tak berhenti sebagai kompetisi, melainkan gerakan berkelanjutan yang memberi dampak nyata bagi desa peserta. Diharapkan, praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi desa lain dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. (JM02)














