Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Bagi sebagian orang, keterbatasan sering kali dianggap sebagai sekat penghalang. Namun, bagi Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri, hambatan pendengaran yang disandangnya justru menjadi bahan bakar untuk membakar semangat percaya diri sesama penyandang disabilitas.
Alumnus program studi S-1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang akrab disapa Fira ini, sukses membuktikan bahwa sunyi bukanlah akhir dari prestasi.
Lewat bendera Fira Modelling Disability (FMD), sebuah sekolah model khusus yang ia rintis sejak masih berstatus mahasiswa, Fira perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap dunia inklusi.
Saat ini, lembaga pelatihan talenta nonformal tersebut telah mengepakkan sayapnya di dua kota besar, Surabaya dan Malang. Tercatat ada sekitar 35 peserta didik berkebutuhan khusus yang kini sedang aktif menggali potensi diri, belajar teknik modelling, hingga melatih seni gerak tubuh di FMD.
Bakat modelling Fira sendiri sebenarnya sudah terasah sejak ia masih kanak-kanak. Prestasi Fira tidak main-main. Ia pernah mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Discover Indonesia: Cultural Performance and Fashion Show di Turki, serta menyabet gelar Juara 1 Putra Putri Fashion Jawa Timur 2021.
Rekam jejak gemilang itulah yang kemudian mengantarkan perempuan tangguh ini bersanding dengan jajaran tokoh perempuan hebat tanah air saat menerima penghargaan Inspiring Women 2022 untuk kategori pendidikan.
Ketika berbincang hangat dengan tim Unesa.ac.id beberapa waktu lalu, Fira mengungkapkan bahwa pendirian FMD lahir dari keprihatinannya melihat minimnya ruang ekspresi yang ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Bahu-membahu bersama sang Ibu, Fira kemudian merancang kurikulum pelatihan yang ramah disabilitas. Mereka tidak hanya mengajarkan cara berjalan dengan anggun di atas panggung (catwalk), tetapi juga menyelipkan kelas tari dan seni gerak demi memantik rasa percaya diri para siswa.
“Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Saya juga berharap sekolah ini menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri, mengembangkan keterampilan, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap para penyandang disabilitas,” tutur Fira dengan penuh keyakinan.
Mengelola sekolah luar biasa nonformal tentu menyodorkan tantangan yang tidak mudah. Fira mengaku bahwa bagian paling menantang adalah meramu metode pelatihan yang pas. Pasalnya, setiap anak memiliki karakter, jenis kebutuhan khusus, serta kemampuan motorik yang unik dan berbeda satu sama lain.
Namun, semua lelah Fira terbayar lunas ketika ia melihat metamorfosis para anak didiknya. Baginya, kepuasan terbesar bukanlah materi, melainkan menyaksikan anak-anak yang awalnya pemalu dan menutup diri, bertransformasi menjadi sosok yang berani tampil percaya diri di hadapan publik.
Setelah resmi diwisuda dan menyandang gelar sarjana pada akhir tahun 2025 lalu, Fira kini mulai menapaki karier profesionalnya dengan bekerja di FIF Group. Hebatnya, di tengah kepadatannya bekerja, Fira tetap meluangkan waktu berharganya untuk mengajar dan menemani anak-anak didiknya di FMD.
Kepedulian sosial yang tinggi ini tentu tidak tumbuh begitu saja. Ekosistem kampus Unesa yang dikenal sangat ramah inklusi telah ikut membentuk karakter Fira menjadi alumnus yang peka dan solutif terhadap isu-isu sosial.
Melalui konsistensi, kedisiplinan, dan ketulusan hatinya, Fira adalah representasi nyata bahwa keterbatasan tidak pernah bisa memenjarakan karya. Ia telah mengubah sunyi menjadi harmoni yang menginspirasi ekosistem inklusi di Indonesia. (JM02)















