Resmikan Bank Syariah Indonesia, Ini Pesan Presiden Jokowi

0
66
Resmikan Bank Syariah Indonesia, Ini Pesan Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah meluncurkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk., Senin (1/2/2021).

Jakarta, JATIMMEDIA.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah meluncurkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. sebagai bank hasil penggabungan tiga bank syariah milik Himbara, yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah, Senin (1/2/2021).

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan harapannya agar Bank Syariah Indonesia (BSI) dapat memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ekonomi syariah yang bisa mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Setidaknya ada empat pesan terkait peluncuran bank tersebut yang disampaikan Presiden Jokowi, diantaranya: pertama, Presiden Jokowi meminta BSI menjadi bank syariah yang terbuka, inklusif serta menyambut siapapun yang ingin menjadi nasabah agar menjangkau lebih banyak masyarakat di Tanah Air.

Baca juga : Diresmikan Presiden Joko Widodo, Bank Syariah Indonesia Bertekad Bawa Indonesia Jadi…

“Jadi jangan berpikir Bank Syariah Indonesia ini hanya untuk umat Muslim saja. Yang nonmuslim pun juga harus diterima dan disambut baik jadi nasabah Bank Syariah Indonesia,” ujarnya di acara peresmian Bank Syariah Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/2/2021).

Resmikan Bank Syariah Indonesia, Ini Pesan Presiden Jokowi
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gurnadi saat peluncuran Bank Syariah Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/2/2021)

Pesan yang kedua dari Presiden Jokowi adalah meminta BSI untuk memaksimalkan penggunaan teknologi digital. Karena digitalisasi menjadi hal yang wajib agar mampu menjangkau mereka yang selama ini belum terjangkau perbankan.

Ketiga, Bank Syariah Indonesia diharapkan mampu menarik minat generasi muda milenial untuk menjadi nasabah.Apalagi jumlah generasi muda milenial Indonesia saat ini mencapai 25,87 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia.

Keempat, Presiden Jokowi meminta produk dan layanan keuangan syariah dari BSI harus kompetitif serta memenuhi kebutuhan berbagai segmen konsumen, mulai dari UMKM, korporasi sampai ritel dan mampu memfasilitasi nasabah agar cepat naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi negara kita Indonesia.

Baca juga : Tarif Cukai Rokok Resmi Naik 12,5 Persen

Dikesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gurnadi mengatakan, menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi Bank Syariah Indonesia memulai perjalanan resminya dari Istana Negara.

“Alhamdulillah bank hasil penggabungan sudah mulai beroperasi dengan nama dan identitas baru, PT Bank Syariah Indonesia Tbk.,” ujarnya.

Hery juga menerangkan, penggunaan nama Bank Syariah Indonesia ini dipilih karena pihaknya ingin bank syariah menjadi representasi Indonesia baik di tingkat nasional maupun global.

Baca juga : Sri Mulyani Tegaskan Tak Ada Pungutan Pajak Baru untuk Pulsa Token…

“Kami siap membawa Bank Syariah Indonesia untuk masuk 10 bank syariah terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan,” tambah Hery.

Bank Syariah Indonesia, lanjut Hery, berkomitmen untuk menjadi lembaga perbankan yang melayani segala lini masyarakat, menjadi bank modern, serta inklusif memberikan pelayanan kepada masyarakat serta tetap menjunjung tinggi prinsip syariah, menjadi bank yang dimiliki nasabah karena memiliki produk yang kompetitif dan memenuhi kebutuhan layanan masyarakat.

“Bank Syariah Indonesia juga memiliki fokus untuk menumbuhkan segmen UMKM, melayani segmen ritel dan konsumer, dan wholesale dengan produk yang inovatif, serta melakukan pengembangan bisnis global seperti global sukuk,” ujarnya.

Baca juga : Gubernur Khofifah Apresiasi Klinik Vaksinasi RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto

Sebagai bank hasil penggabungan, pada posisi Desember Bank Syariah Indonesia yang memiliki lebih dari 1.200 kantor cabang dan 20.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia ini mencatatkan total aset Rp 240 triliun, pembiayaan Rp 157 triliun, DPK Rp 210 triliun, dan modal inti Rp 22,6 triliun. (JM01)