
Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Sebagai upaya merespons tren peningkatan kasus stroke yang terus merangkak naik, RSUP Kemenkes Surabaya kian gencar mengedukasi masyarakat melalui kampanye Code Stroke Awareness. Melalui Media Gathering yang digelar pada Jumat (19/12), RSUP Kemenkes semakin menegaskan posisinya sebagai pusat rujukan utama bagi wilayah Jawa Timur dan Indonesia bagian timur.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Stroke saat ini menduduki posisi sebagai penyebab kematian terbesar kedua di dunia sekaligus pemicu utama disabilitas permanen. Oleh karena itu, kecepatan penanganan dalam fase golden period—yakni sekitar dua jam sejak gejala muncul—menjadi kunci keselamatan pasien.
Dokter Spesialis Saraf RSUP Kemenkes Surabaya, dr. Chandrawati Widya, Sp.N, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah keterbatasan fasilitas, melainkan kesadaran masyarakat untuk segera mencari bantuan medis.
“Harapannya, kami dapat memberikan layanan kesehatan dengan standar internasional sehingga masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Chandrawati mengingatkan bahwa masyarakat harus jeli mengenali gejala awal. “Gejala stroke tidak selalu ditandai kelumpuhan separuh tubuh atau wajah mencong. Keluhan mendadak seperti pusing berputar, kesemutan, hingga nyeri kepala juga patut diwaspadai,” tambahnya.
Selaras dengan misi tersebut, RSUP Kemenkes Surabaya telah mengintegrasikan sistem Stroke Alarm. Begitu pasien tiba, tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis, petugas radiologi, hingga laboratorium langsung bergerak serentak. Dukungan fasilitas seperti CT Scan dan MRI 24 jam, serta layanan Cath Lab, memastikan tidak ada detik yang terbuang sia-sia.
Tak hanya dari sisi diagnosa, intervensi bedah pun kini jauh lebih modern. dr. M. Wildan Hakim, Sp.BS, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerapkan teknologi minimal invasif. Penggunaan metode endoskopik dan mikroskopik memungkinkan penanganan sumbatan atau perdarahan otak dilakukan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi dan risiko yang lebih minim bagi pasien.
Transisi layanan tidak berhenti pada fase darurat saja. RSUP Kemenkes Surabaya juga fokus pada tahap pemulihan melalui layanan Neuro Restorasi. dr. Cindy Cecilia, Sp.N, menekankan bahwa rehabilitasi seharusnya dimulai sejak fase awal serangan, bukan menunggu kondisi stabil.
“Jika pasien datang terlambat, banyak sel saraf sudah terlanjur rusak sehingga pemulihan tidak maksimal. Namun, rehabilitasi tetap harus dijalani agar fungsi tubuh tidak terus menurun,” jelas dr. Cindy.
Salah satu teknologi unggulan yang ditawarkan adalah Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Teknologi non-invasif ini memanfaatkan medan magnet untuk menstimulasi otak guna meningkatkan neuroplasticity, sehingga mempercepat pemulihan fungsi saraf dan kognitif tanpa perlu tindakan operasi.
Sebagai penutup, dr. Cindy menyoroti bahwa keterlambatan penanganan sering kali dipicu oleh minimnya pengetahuan dan adanya stigma negatif di masyarakat terhadap penyakit stroke.
“Di sinilah peran media sangat penting untuk mendorong masyarakat agar tidak ragu datang ke rumah sakit. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk pulih,” pungkasnya. Melalui komitmen layanan terpadu dari fase akut hingga rehabilitasi, RSUP Kemenkes Surabaya optimistis dapat meningkatkan kualitas hidup para penyintas stroke di Indonesia.(JM02)














