
“Pertumbuhan kinerja konsolidasi ini merupakan salah satu hasil dari implementasi aksi korporasi serta penguatan sinergi Bank Jatim bersama anggota KUB. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan sinergi tersebut untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru,” terang Wahyu.
Sinergi KUB tersebut diwujudkan lewat pengembangan bisnis terpadu, seperti perluasan layanan transaksi internasional (remittance dan Trading Processing Agent), safekeeping custodian, penyediaan Bank Notes, hingga joint services untuk e-channel dan pembiayaan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Melalui sinergi tersebut, Bank Jatim berupaya membangun ekosistem bisnis yang saling melengkapi sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan
Secara bank only, Bank Jatim tetap tampil solid hingga Juli 2026 dengan total aset Rp98 triliun, penyaluran kredit Rp66,4 triliun, dan DPK sebesar Rp72,9 triliun. Di tengah penyesuaian alokasi Transfer ke Daerah yang memengaruhi DPK, Bank Jatim berhasil mencetak laba bersih Rp802 miliar (tumbuh 1,76% yoy).
Guna memperkuat penghimpunan dana murah (CASA), Bank Jatim memacu transactional banking, inovasi aplikasi JConnect Mobile, penguatan jaringan Agen Laku Pandai, serta perluasan mesin ATM/CRM.
“Penguatan ekosistem digital menjadi salah satu strategi utama kami untuk meningkatkan utilitas layanan, memperluas akuisisi nasabah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber dana tertentu. Kami ingin menjadikan ekosistem yang sudah kuat sebagai entry point untuk menangkap peluang pasar baru,” tegas Winardi.
Menanggapi iklim permintaan kredit yang cenderung konservatif, Direktur Ritel & Syariah Bank Jatim, Tonny Prasetyo, menambahkan bahwa perusahaan memilih bersikap selektif guna mengamankan kualitas aset. Per Juli 2026, portofolio kredit bank only berada di angka Rp66,4 triliun (terkontraksi 2,6% yoy), dengan segmen konsumtif berbasis payroll menjadi penopang utama.
“Segmen konsumtif, khususnya kredit berbasis payroll, masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan layanan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat pangsa pasar,” jelas Tonny.
Pada segmen produktif, penyaluran KUR dan Jatim Ritel terus digenjot dengan mitigasi risiko yang ketat melalui restrukturisasi, evaluasi berkala, serta perbaikan proses bisnis. Tak hanya mengejar profit, Bank Jatim juga membuktikan komitmen pada keuangan berkelanjutan (sustainable finance) dengan menyalurkan kredit berwawasan lingkungan senilai Rp5,40 triliun pada 2025, yang dilengkapi berbagai program CSR di bidang sosial, pendidikan, dan lingkungan.
Menatap paruh kedua 2026, Bank Jatim optimistis mampu mempertahankan tren kinerja positif dengan tetap menitikberatkan pada prinsip kehati-hatian.
“Bank Jatim akan terus mengambil langkah yang tepat dan terukur untuk menjaga pertumbuhan bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas aset. Kami optimistis berbagai strategi yang telah disiapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru dan membawa Bank Jatim mencapai kinerja yang melampaui target,” tutup Winardi.(JM02)













