Ali : Hidup Mati Saya Bergantung pada BPJS Kesehatan

0
5
Ali : Hidup Mati Saya Bergantung pada BPJS Kesehatan
Mochamad Aliarifin, peserta BPJS Kesehatan Surabaya

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Punya penyakit banyak dan hidup pas-pasan, tentu tidak diinginkan siapapun. Namun terkadang situasi dan kondisi seperti ini sering dialami masyarakat, baik di desa maupun di kota.

Ini juga yang terjadi pada Mochamad Aliarifin (54), warga Medokan Timur V, Kelurahan Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo, Surabaya.

Ali, panggilan akrabnya, menceritakan bahwa ia memiliki cukup banyak penyakit di tubuhnya, yang dimulai sekitar tahun 2021 ketika ia mulai sering merasakan beberapa gejala seperti kepala pusing, nyeri, pegal-pegal dan tensi darah yang selalu tinggi, juga kadar gula yang selalu melambung.

“Pada tahun 2018 akhir, saya sempat stroke dan dokter di Rumah Sakit Gotong Royong Medokan Semampir Surabaya, juga mendiaknosa saya memiliki diabetes militus,” terang Ali.

Ali juga menjelaskan bahwa sebelum sakitnya bertambah parah, dia bekerja sebagai pekerja makam di TPU Keputih Surabaya. Namun karena penyakit yang diderita semakin parang, akhirnya ia harus berhenti bekerja.

Baca juga : Maria : Sayang Dulu Gak Ada BPJS Kesehatan

“Bisa dibayangkan, saya sendiri sudah tidak bekerja. Jika harus terus menerus berobat dan langsung membayar tunai, saya rasa tidak mampu mas. Artinya saya harus pasrah,” tutur Ali dengan sedih ketika teringat istri dan anaknnya yang menginggalkan dirinya ketika sakitnya semakin parah.

Namun dengan adanya jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), Ali merasa percaya diri untuk terus menjalani kehidupan ini.

Ali yang terdaftar sebagai peserta JKN-KIS berstatus aktif dari segmen kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD kota Surabaya, dengan faskes 1 Puskemas Keputih, mengaku bahwa tanpa BPJS kesehatan, mungkin ia sudah tidak bisa bertahan.

Baca juga : Presiden: PPKM Darurat Dibuka Bertahap pada 26 Juli, Jika Tren Kasus…

“Bahkan saking parahnya penyakit saya ini, sampai-sampai saya berjalan saja terasa gontai dan harus pelan,” terangnya, sambil menceritakan bahwa ia juga sempat menjalani rawat inap di RS Haji Sukolilo Surabaya selama delapan hari pada tahun 2019 awal, sebelum adanya pandemi Covid19.

Menyadari hidupnya (karena masalah kesehatannya, red) tergantung BPJS Kesehatan, maka Ali berharap program JKN-KIS ini jangan sampai di hentikan atau di hapus.

“Jujur, hidup mati saya bergantung pada BPJS Kesehatan. Karena itu, program baik yang sangat membantu masyarakat ini jangan sampai di berhentikan,” harap Ali.

Apalagi, menurut Ali, melalui program JKN-KIS ini masyarakat tidak mampu, sama sekali tidak dibebani biaya, alias gratis semua.

Baca juga : Pandemi Covid-19 Angkat Pertumbuhan Harga Properti Australia

Ali benar-benar merasakan manfaat positif BPJS Kesehatan dalam perjalanan panjang kesehatannya. Dan dengan kartu KIS yang dimilikinya, semua proses pengobatan yang dialami Ali benar-benar gratis tanpa dipungut biaya.

“Pelayanan yang saya terima juga bagus dan tidak dibedakan. Karena itu saya sendiri sangat bergantung dengan program BPJS Kesehatan ini,” pungkasnya. (JM01)