Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Dalam rangka mendukung suksesnya Presidensi G20 Indonesia tahun 2022, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur melakukan diseminasi informasi kepada perwakilan diplomatik melalui acara yang bertajuk “East Java Policy Discussion on G20 Presidency 2022”.
Gelaran yang dilaksanakan di Hotel Shangri-La Surabaya ini, dihadiri oleh Konsul Jenderal, Konsul, dan atau Konsul Kehormatan dari 11 negara, yaitu Australia, Jepang, Hungaria, Filipina, Mongolia, Denmark, Belarusia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, dan Singapura.
Budi Hanoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, membuka diskusi sekaligus menyampaikan bahwa tahun 2022 merupakan tahun “sibuk” bagi Indonesia yang mendapatkan mandat penting dalam mendukung pemulihan ekonomi global melalui perannya sebagai Presidensi G20.
Baca juga : Naik Pesawat, Sekarang Wajib Antigen dan PCR Kalau Belum Booster
“Di tengah pemulihan ekonomi antara negara maju dan berkembang yang terjadi secara tidak seimbang (global imbalances), setidaknya ada 3 tantangan yang perlu mendapat perhatian,” ujar Budi
Adapun 3 tantangan tersebut, dianatarnya:
- normalisasi kebijakan di negara maju, dimana kenaikan suku bunga The Fed berdampak pada kenaikan suku bunga global sehingga mempersulit pemulihan ekonomi negara berkembang;
- dampak jangka menengah-panjang scarring effect (luka memar) akibat pandemi terhadap sektor riil, serta
- eskalasi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berdampak pada lonjakan harga komoditas internasional (energi maupun pangan), gangguan mata rantai perdagangan global, serta pembalikan arus modal secara tiba – tiba ke safe heaven asset (terutama emas) yang menimbulkan ancaman bagi stabilitas eksternal dan kinerja nilai tukar.
Sebagai bentuk respon kebijakan atas tantangan tersebut, lanjut Budi, Presidensi G20 Indonesia 2022 mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, yang bertujuan mendorong seluruh dunia untuk saling bahu-membahu dan saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19.
Perhelatan tersebut juga memiliki 5 pilar utama, yaitu mempromosikan produktivitas; meningkatkan ketahanan dan stabilitas; memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan yang inklusif; mendukung iklim/lingkungan dan kemitraan; serta kepemimpinan global kolektif yang lebih kuat.
Baca juga : Jatim Kembali Jadi Provinsi dengan Siswa Terbanyak yang Diterima SNMPTN Tahun…
Selanjutnya, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan memimpin pembahasan jalur keuangan (finance track) dan memperjuangkan 6 agenda prioritas, yaitu
- Mengatasi dampak normalisasi kebijakan di negara maju agar well calibrated, well-planned dan well-communicated;
- Mengatasi dampak scarring effect terhadap sektor riil melalui reformasi dan transformasi struktural, serta meningkatkan produktifitas dan daya saing dengan strategi bisnis yang baru di post-COVID era, termasuk mendorong investasi dan produktivitas SDM;
- Digitalisasi Sistem Pembayaran, termasuk isu Cross Border Payment dan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC);
- Green Economy dan Sustainable Finance, agar transisinya berjalan lancar termasuk dukungan pembiayaan hijau (green financing);
- Inklusi Ekonomi dan Keuangan, termasuk pemanfaatan digitalisasi untuk optimalisasi potensi UMKM sebagai pilar pertumbuhan ekonomi yang kuat; serta
- Perpajakan Internasional, termasuk perpajakan digital.
Halaman selanjutnya: Untuk mendukung suksesnya Presidensi G20 2022…















