
Salah satu tugas utama BPJS Kesehatan, lanjut Betsy, adalah untuk memastikan setiap warga negara itu menjadi peserta. Ia juga berharap, mahasiswa dan aktivitas akademika yang ada di kampus, sudah mengantongi kepesertaan JKN-KIS.
“Jadi, kalau dia tidak tinggal atau tidak asli orang Surabaya, orang tuanya juga tidak perlu khawatir ketika mereka kuliah di Surabaya,” tambahnya.
Baca juga : Ini 3 Langkah Akselerasi Eksyar untuk Pemulihan Ekonomi Inklusif
Artinya, mereka nggak perlu memikirkan biaya karena sudah ada jaminan dari kampusnya, juga ketika ada kejadian yang tidak diharapkan bisa langsung tercover BPJS Kesehatan, karena meskipun beberapa kampus ada yang menjamin asuransinya, di beberapa asuransi swastapun tidak tercover.
“Kesehatan itu murah ketika dia masih ada sama kita, tapi dia begitu mahal ketika dia pergi jauh dari kita. Jadi harapannya kampus bisa mendaftarkan semua aktivitas dan akademikanya guna memastikan semua mahasiswanya bisa terdaftar dalam program JKN,” tutur Betsy.
Sementara itu, ditemui terpisah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. Apt. Christina Avanti, M.Si mengatakan telah melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan sejak tahun 2018.
“Angkatan 2018 itu adalah angkatan pertama yang mendapatkan BPJS parsial, Kenapa? karena banyak rupanya yang sudah punya BPJS. Saya hanya meneruskan saja sejak tahun 2019. Kebetulan ada di bawah pengelolaan rektor 3 juga bidang kemahasiswaan,” ucap Tina sapaan akrabnya.
Baca juga : Bank Indonesia Gelar Festival Simfoni Rupiah guna Perkuat Sistem Pembayaran Inklusif
Mengenai Program JKN dan kerjasama ini menurut Tini, saling mendukung. Di Ubaya sendiri, bagi mahasiswa yang belum terdaftar program JKN, sekolah mendaftarkan secara kolektif.
“Dengan demikian, ada yang kita daftarkan dan bayarkan bagi yang belum punya, ya kalau yang sudah punya kita tawarkan mau dipindah segmen atau tidak,” ungkapnya. (JM01)














