Perbesar Skala Bisnis, Darbe Jaya Abadi Perkuat Ekosistem

0
40
Perbesar Skala Bisnis, Darbe Jaya Abadi Perkuat Ekosistem
Perbesar Skala Bisnis, Darbe Jaya Abadi Perkuat Ekosistem

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – PT Darbe Jaya Abadi (DJA) dengan merek dagang Darbe Meats, sebagai perusahaan yang cukup berpengalaman dalam perdagangan ayam, pemotongan, dan peternakan memahami bahwa ceruk pasar yang ada di bisnis masih sangat besar.

Potensi Nasional untuk tahun 2021 saja tercatat 3,2 juta ton ayam pedaging (BPS, www.wbp.go.id). Sementara berdasarkan data BPS yang diolah Pusdatin dan Ditjen PKH Kementan RI, ekspor unggas pada tahun 2021 naik 12,98 dibanding periode yang sama pada tahun lalu (https://agrivisi.id/ekspor-produk-unggas-indonesia-naik-tahun-ini/)

Ongky Aries Tyanto, SH, Direktur Pemasaran dan Operasional DJA menjelaskan, dari fakta ini, perseroan akan mengambil porsi 3.200 ton atau hanya sekitar 1 persen saja dari kebutuhan market.

“Kemampuan kami dalam memenuhi kebuhan pasar memang masih sangat kecil, sementara deman-nya sangat besar. Karena itu kami ingin mengembangkan menjadi lebih besar lagi. Untuk itulah kami akan melakukan aksi korporasi dengan masuk ke Pasar Modal dengan melakukan IPO,” terangnya pada jatimmedia.com, Kamis (7/10/2021).

Baca juga : Penjualan Meningkat, Darbe Jaya Abadi Bersiap Go Publik

Ongky juga menjelaskan, hingga saat ini, perseroan telah memiliki 2 rumah potong ayam (RPA) sendiri yang berlokasi di Sidoarjo dan Mojokerto, Jawa Timur. Dan keduanya telah beroperasi full scale.

Perbesar Skala Bisnis, Darbe Jaya Abadi Perkuat Ekosistem
Perbesar Skala Bisnis, Darbe Jaya Abadi Perkuat Ekosistem

“Karena itu, tahun depan kami merencanakan akan membangun 1 lagi RPA di Bali, selain untuk memperkuat pasar bali yang mencapai 35 persen kapasitas DJA, juga untuk memaksimalkan pelebaran distribusi kami di Lombok dan Indonesia Timur,” tegas Ongky.

Sampai saat ini, lanjut Ongky, dalam melakukan penjualan, sebesar 62% rantai distribusi berada di Jawa Timur meliputi Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jombang, Magetan, Mojokerto, Malang, Tulungagung, dengan sistem penjualan keagenan dan pengolahannya. Sementara 35% distribusi diserap pasar di Bali (segmen pasar basah), 2% di Jawa Barat khususnya di wilayah Bandung (segmen end-user),  dan 1% di Makassar (segmen end-user).

“Salah satu strategi yang dikembangkan perseroan untuk memperkuat penetrasi pasar adalah dengan membangun ekosistem melalui perencanaan usaha terintegrasi, beretika bisnis dan menerapkan Good Corporate Governance (GCG),” tambahnya.

Baca juga : BI Minta Masyarakat Tetap Waspadai Uang Palsu

Ekosistem yang dibangun perseroan diantaranya juga termasuk membangun armada sendiri yang selalu siap dalam melakukan distribusi, juga membangun kemitraan startegis dengan para pelaku UMKM dibidang ayam, dan juga mengembangkan diversifikasi usaha makanan olahan ayam, serta mempersiapkan pola kerja kemitraan yang fair denga mitra dan distributor/agen.

“Kami sangat menyadari bahwa bila kita ingin maju dan berkembang, maka pengembangan ekosistem yang baik menjadi kunci dari keberhasilan usaha kami. Karenanya kami sangat memperhatikan masalah kelangsungan dan pengembangan ekosistem kami. Inilah yang pada akhirnya menopang going concern Perseroan di masa yang akan datang,” tegas Ongky.

Ongky juga menyampaikan bahwa nantinya dengan modal yang diperoleh melalui IPO yang akan dilakukan perseroan, sepenuhnya akan dipakai untuk meningkatkan kapasitas produki dan pengembangan pasar, termasuk diantarannya:

  • Rencana mendirikan rumah potong ayam (RPA) di Bali untuk menunjang perluasan pasar di Indonesia Timur.
  • Membuka pasar ekspor baru, dengan negara tujuan ekpor Malaysia dan Jepang (sudah ada permintaan, red)
  • Memperkuat kemitraan dan memperkuat jaringan bahan baku serta menambah agen dan distributor baru untuk wilayah Jakarta, Banten dan Lampung
  • Meningkatkan produksi dan kapasitas penyimpanan dingin/ cold storage
  • Memperkuat branding merek dan distribusi serta terus mengembangkan pasar domestic
  • Menyiapkan saluran toko daging

Baca juga : BPJS Kesehatan Terus Genjot Antrian Online

“Yang juga tak kalah menarik adalah pengembangan dan diversifikasi produk dan menemukan unit bisnis baru dari limbah. Bisnis ayam ini tidak ada yang dibuang. Semua bisa dimanfaatkan, dari daging, tulang, hingga bulunya,” tegas Ongky. (JM01)