Crown Group : Orang Asing Tetap Dapat SHM Bila Beli Properti Apartemen di Australia

0
12
Crown Group : Orang Asing Tetap Dapat SHM Bila Beli Properti Apartemen di Australia
Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief

Jakarta, JATIMMEDIA.COM – Crown Group Indonesia menekankan bahwa setiap orang asing yang memiliki apartemen di Australia akan mendapatkan SHM atas unit apartemen yang dimiliknya. Hal ini disampaikan Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief, menjawab beberapa pertanyaan yang muncul perihal legalitas kepemilikan apartemen di Australia.

“Banyak calon konsumen yang mempertanyakan hal ini kepada kami perihal pembeli asing di Australia, terutama ketika mereka memperbandingkan dengan pengalaman membeli unit apartemen di Indonesia,” ujarnya, Selasa (9/2/2021).

Reiza juga menambahkan bahwa orang asing tetap akan mendapatkan jenis sertifikat yang sama dengan penduduk lokal, yaitu SHM yang berlaku seumur hidup dan dapat diwariskan.

Sementara yang membedakan legalitas kepemilikan properti bagi orang asing di Australia dengan di Indonesia, lanjut Reiza, di Australia hanya berlaku satu jenis sertifikat saja, yaitu Freehold certificate dan lahan di atas gedung akan dibagi dalam bentuk strata ke setiap unit.

Baca juga : Seluruh Kab/Kota Jatim Akan Lakukan PPKM Berbasis RT/RW Berdasarkan Zonasi Mulai…

“Kalau di Indonesia kan terdapat beberapa tipe sertifikat tergantung dari kepemilikan lahan gedung. Sementara strata hanya merupakan kepemilikan ruang unit dan tidak termasuk lahan dimana gedung itu berdiri,” tambahnya.

Ditambahkan Reiza, SHM di Australia sendiri masih berbentuk fisik, walaupun sudah menggunakan sistem digital untuk penyimpanan data. Sementara untuk waktu proses yang dibutuhkan untuk mendapatkan SHM di Australia biasanya 2 minggu sebelum jadwal serah terima unit sertifikat.

“Di Australia biasanya 2 minggu sebelum jadwal serah terima unit sertifikat sudah keluar, dan serah terima unit tidak akan terjadi apabila sertifikat belum ada,” jelas Reiza, sambil menambahkan bahwa untuk pendaftaran sertifikat, saat ini sudah menggunakan sistem pendaftaran digital e-documents, sehingga memudahkan bagi pembeli yg berdomisili di luar negeri.

Ketika ditanyakan mengapa banyak orang asing khususnya dari Indonesia lebih banyak membeli apartemen dibandingkan rumah tapak, Reiza menjelaskan bahwa untuk kepemilikan rumah tapak harganya lebih tinggi dibandingkan unit apartemen, terutama di area yang strategis seperti di dekat CBD dan area sekitar kampus.

Baca juga : Ini Instruksi Mendagri soal PPKM Mikro Mulai 9–22 Februari

Selain itu, lanjutnya, pemeliharaan rumah tapak juga lebih mahal dibandingkan dengan apartemen, bahkan ada pajak tambahan apabila rumah tapak tersebut kosong lebih dari 6 bulan yang besarannya sendiri sekitar 1% dari nilai properti yang dimiliki.

”Apartemen juga secara umum lebih mudah di sewakan dibanding rumah tapak, sehingga memudahkan para investor yang menggunakan KPA me-leverage pembayaran cicilan bulannya,” tambahnya.

Reiza juga menjelaskan bahwa 70% tipe pembeli dari Indonesia adalah tipe investor, dimana mereka mencari properti yang mudah disewakan dan memberikan imbal hasil yang tinggi.

“Itulah sebabnya lebih banyak pembeli asing yang menyasar unit apartemen dibandingkan rumah tapak. Apalagi jumlah calon penyewa unit apartemen lebih besar dibandingkan rumah tapak di Australia,” tegas Reiza.

Baca juga : PPKM Mikro di Jatim Pakai Satuan Kampung Tangguh

Sebagai gambaran, lanjut Reiza, persentase penyewa rumah tapak adalah sebesar 14% pada tahun 2009 dan hanya naik sebesar 1% menjadi 15% pada tahun 2019. Sementara persentase penyewa unit apartemen adalah sebesar 43% pada tahun 2009 dan naik menjadi 56% di tahun 2019. Selain itu juga ada penurunan presentase sebesar 13% bagi mereka yang membeli dan tinggal di unit apartemennya. Dari 56% pada tahun 2009 menjadi 43% pada tahun 2019.

Terkait perlu tidaknya digitalisasi pendaftaran SHM, Reiza Arief berpendapat, bahwa meskipun SHM masih berbentuk fisik, namun sistem registrasi sertifikat sebaiknya di digitalisasi untuk mencegah tumpang tindih sertifikat yang masih sering terjadi di Indonesia.

“Kepemilikan lahan di atas gedung Apartemen yang memiliki sertifikat terpisah juga melemahkan posisi pembeli,” tambahnya.

Karena itu menurut Reiza, diperlukan campur tangan dari pemerintah Indonesia untuk dapat menjamin hak konsumen mendapatkan sertifikat atas unit yang dibeli sehingga meningkatkan kepercayaan dan antusiasme konsumen dalam membeli proyek off the plan.

Baca juga : BPJS Kesehatan Surplus Rp 18,7 Triliun Selama 2020

“Karena yang sering terjadi, sertifikat tidak keluar walaupun mereka sudah membayar lunas,” tutup Reiza. (JM01)