Jember, JATIMMEDIA.COM – Kabupaten Jember menorehkan catatan gemilang dalam upaya mencetak generasi sehat melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS). Setelah berjalan selama tiga bulan sejak Agustus 2025, program inovatif ini terbukti efektif mengubah peta kesehatan anak di wilayah tersebut dengan hasil yang sangat signifikan.
Berdasarkan data evaluasi terakhir, sebanyak 90,12 persen balita peserta menunjukkan perbaikan status gizi yang menggembirakan. Secara lebih spesifik, angka stunting berhasil ditekan sebesar 16,05 persen dari total 81 balita yang terlibat, sementara 74,07 persen di antaranya mengalami peningkatan gizi secara drastis.
Keberhasilan ini tidak lepas dari skema intervensi yang ketat dan terarah di 18 Puskesmas se-Kabupaten Jember. Alih-alih hanya memberikan bantuan pangan biasa, program ini berfokus pada pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis. Produk ini bukan sekadar suplemen, melainkan pangan dengan densitas energi tinggi yang telah teruji secara klinis dan diakui secara internasional.
Tak hanya soal asupan, pengawasan medis pun dilakukan secara intensif. Para peserta dipantau secara rutin setiap dua minggu oleh tim Dokter Spesialis Anak (DSA), yakni dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, dr. Natalia Kristianti Nugraheni, Sp.A, dan dr. Mega Nur Purbo, Sp.A.
“Stunting adalah permasalahan multidimensional. Penanganannya tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Deteksi dini sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan tetap menjadi kunci utama,” ujar dr. Nurul Ima Suciwiyati menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh.
Menariknya, program ini memanfaatkan teknologi telemedicine untuk menjembatani tenaga kesehatan di Puskesmas dengan tim dokter spesialis di rumah sakit daerah. Melalui konsultasi daring, setiap kendala klinis di lapangan dapat ditangani dengan cepat dan tepat sasaran.
Selain kecanggihan teknologi, pendekatan humanis juga diterapkan untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi anak. Agar balita tidak bosan, asupan PKMK disajikan dalam berbagai bentuk kreatif, mulai dari puding, es lilin, kue, hingga cendol. Strategi adaptif ini terbukti efektif membuat anak-anak lebih lahap dalam mengonsumsi nutrisi tambahan mereka.
Dalam sesi penutupan program pada Selasa (16/12/25), Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi lintas sektor yang terjalin, termasuk dukungan dari pihak swasta.
“Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan berkesinambungan mampu memberikan dampak nyata. Ini menjadi bukti bahwa upaya penanganan stunting harus dilakukan secara serius, terstruktur, dan kolaboratif,” tegas Rachman.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan Program PEGAS sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana penurunan stunting dan perbaikan kualitas gizi masyarakat menjadi program prioritas.

Capaian positif ini menjadi semakin relevan dalam menyongsong Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari. Momentum ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas gizi anak sejak dini.
Keberhasilan Program PEGAS di Jember menunjukkan bahwa peringatan Hari Gizi Nasional tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi dapat dimaknai sebagai pengingat pentingnya implementasi program gizi yang nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat daerah.(JM02)















