Home Ekonomi Bisnis Laporan BPS Jatim: Inflasi Terkendali di Tengah Dinamika Pariwisata

Laporan BPS Jatim: Inflasi Terkendali di Tengah Dinamika Pariwisata

0
16
Laporan BPS Jatim: Inflasi Terkendali di Tengah Dinamika Pariwisata
Laporan BPS Jatim: Inflasi Terkendali di Tengah Dinamika Pariwisata

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur resmi merilis laporan perekonomian penutup tahun 2025, Senin (05/01). Data menunjukkan bahwa Jawa Timur mengalami inflasi tahunan (year on year) sebesar 2,93% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,25. Meskipun angka ini menunjukkan kenaikan harga, kondisi ekonomi secara umum dinilai masih stabil di tengah fluktuasi kunjungan wisatawan.

Memasuki pengujung tahun, Jawa Timur mencatat inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,76% pada Desember 2025. Kepala BPS Jatim, Zulkipli, mengungkapkan bahwa lonjakan harga cabai rawit menjadi faktor determinan utama.

  • Penyumbang Inflasi: Harga cabai rawit meroket hingga 100,03%, memberikan andil inflasi sebesar 0,24%. Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan (4,49%), daging ayam ras (4,56%), dan tarif angkutan udara (6,04%) turut mendorong kenaikan indeks.
  • Penahan Inflasi: Di sisi lain, laju inflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga pada komoditas cabai merah yang mengalami deflasi sebesar 16,67% serta harga beras yang turun tipis 0,24%.

Secara spasial, Sumenep menjadi wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi mencapai 3,75%, sementara Kabupaten Gresik mencatat inflasi terendah di angka 2,44%. Zulkipli menambahkan bahwa fenomena inflasi di akhir tahun ini terjadi merata di seluruh provinsi di Indonesia.

Beralih ke sektor pariwisata, performa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada November 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Meskipun secara bulanan turun 26,77% dibandingkan Oktober, namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (November 2024), angka kunjungan tetap tumbuh positif sebesar 3,89%.

Hingga November 2025, Bandara Juanda masih menjadi pintu masuk utama bagi 21.629 wisman. Berdasarkan asal negara, pasar Asia tetap mendominasi:

  1. Malaysia: 5.357 kunjungan (24,77% dari total).
  2. Tiongkok: 5.355 kunjungan.
  3. Singapura: 2.626 kunjungan. Menariknya, wisatawan asal Jepang mencatat lonjakan persentase tertinggi sebesar 25,98% dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, tren positif pada wisman berbanding terbalik dengan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Perjalanan wisnus menuju maupun dari Jawa Timur tercatat mengalami pelemahan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai gambaran, perjalanan wisnus asal Jatim pada November mencapai 15,72 juta, turun 2,20% dari bulan Oktober.

BACA JUGA  Bank Jatim Bantu Pencegahan Penyebaran Covid-19 Hingga Rp 4,4 Milyar

Meskipun ada perlambatan pada jumlah perjalanan wisnus, sejumlah agenda internasional dan nasional terbukti menjadi penyelamat bagi industri perhotelan. Acara seperti Mojo Fest 2025, Travel Gathering ASIDEWI, dan Asian Science & Mathematics Olympiad (ASMOPSS) di Bojonegoro menjadi magnet kunjungan yang signifikan.

Hal ini berdampak langsung pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK):

  • Hotel Bintang: Mencapai 52,82% (naik 0,19 poin), terutama didorong oleh performa hotel bintang 4 dan 5.
  • Wilayah Unggulan: Kota Mojokerto memimpin okupansi tertinggi sebesar 70,86%, disusul Sidoarjo (66,85%) dan Gresik (66,19%).

Sebagai penutup, Zulkipli menekankan bahwa daya saing pariwisata daerah sangat bergantung pada lokasi yang strategis, akses transportasi, serta kualitas layanan yang kompetitif. Ke depannya, ketersediaan bahan pangan dan faktor cuaca akan terus dipantau untuk menjaga stabilitas harga di Jawa Timur sepanjang tahun 2026. (JM02)