Home Umum Pameran Material Ways : Jejak Tanah Liat Pada Seni Kontemporer

Pameran Material Ways : Jejak Tanah Liat Pada Seni Kontemporer

0
30
Diskusi publik "Material Ways: Tanah Liat, Memori, dan Sublimitas dalam Praktik Seni Kontemporer" yang digelar di Artsubs pada 27 Agustus 2025, dipandu oleh kurator Nirwan Dewanto menghadirkan dua seniman, Endang Lestari dan Hermawan Dasmanto, sebagai narasumber utama.
Diskusi publik "Material Ways: Tanah Liat, Memori, dan Sublimitas dalam Praktik Seni Kontemporer" yang digelar di Artsubs pada 27 Agustus 2025, dipandu oleh kurator Nirwan Dewanto menghadirkan dua seniman, Endang Lestari dan Hermawan Dasmanto, sebagai narasumber utama.

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Tanah, bahan yang seringkali dianggap remeh, ternyata menyimpan narasi tak terbatas di tangan para seniman. Hal ini terbukti dalam diskusi publik “Material Ways: Tanah Liat, Memori, dan Sublimitas dalam Praktik Seni Kontemporer” yang digelar di Artsubs pada 27 Agustus 2025. Dipandu oleh kurator Nirwan Dewanto, acara ini mengungkap bagaimana medium ini menjelma menjadi karya seni kontemporer yang sarat makna.

Menghadirkan dua seniman, Endang Lestari dan Hermawan Dasmanto, sebagai narasumber utama. Keduanya menawarkan perspektif unik tentang hubungan mereka dengan tanah liat.

Lahir di Aceh, Endang membawa pengalaman personalnya ke dalam setiap karya. Antara lain karyanya yaitu, “percakapan dalam senyap” (2008), menjadi saksi bisu kisah sosial-politik dan dampaknya pada perempuan Aceh. Kemudian “perempuan pekerja dan koper merah” (2010) menangkap tentang optimisme dan harapan perempuan pekerja yang dia jumpai. Endang juga berbagi bagaimana ia merespons pandemi dengan menanam jamur, yang kemudian ia hadirkan dalam media teknologi untuk menciptakan spora menari dalam cahaya.

Menurutnya, tanah liat adalah medium paling intim, di mana setiap retakan dan tekstur menyimpan narasi. Ia percaya, seni keramik adalah perpaduan antara intuisi dan pengetahuan teknis yang menciptakan keseimbangan antara ekspresi emosional dan bentuk formal.

Berbeda dengan Endang, Hermawan Dasmanto datang dari latar belakang arsitek. Ia melihat tanah liat dari sudut pandang yang lebih struktural namun tetap filosofis. Hermawan fokus pada genteng, sebuah material yang dianggapnya kehilangan pamor akibat ulah industri yang menurunkan kualitasnya. “Trenggalek sangat terkenal dengan industri genteng, tapi sekarang banyak yang runtuh,” ujarnya.

Instalasi karyanya di Artsubs adalah sebuah riset yang diubah menjadi seni. Ia ingin membangkitkan kesadaran baru bahwa genteng bukan hanya untuk atap, melainkan bisa diolah menjadi karya seni. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa material yang sudah pecah pun bisa diolah kembali. Hermawan berharap karyanya dapat membuka mata kita akan potensi tak terbatas dari material sehari-hari.

BACA JUGA  Dorong Efektivitas Pembatasan, Pemerintah Upayakan PPKM Berbasis Mikro

Diskusi mengalir santai namun penuh wawasan. Ketika ditanya tentang ketertarikannya pada tanah liat, Endang mengungkapkan bahwa seni keramik adalah pilihan keduanya setelah arsitektur. Ia memilihnya karena “banyak yang bisa diulik.” Ia juga menegaskan bahwa ia berkarya sebagai seniman, bukan “seniman perempuan,” dan sering mengangkat isu-isu lingkungan dan gender dalam karyanya.

Sementara itu, Hermawan berbagi kisah pribadi, mengakui sempat merasa iri dengan kakaknya yang pandai menggambar. Perjalanan seninya adalah upaya menemukan passion dengan alasan yang kuat, dan karya gentengnya adalah bagian dari eksplorasi tersebut.

Kedua seniman ini membuktikan bahwa di balik setiap karya, ada kisah personal, perjuangan, dan makna mendalam yang menunggu untuk digali. (JM02)