Tren Adopsi Boneka Arwah di Kalangan Artis, Begini Kata Pakar Psikologi UNAIR

0
4
Tren Adopsi Boneka Arwah di Kalangan Artis, Begini Kata Pakar Psikologi UNAIR
Tren Adopsi Boneka Arwah di Kalangan Artis, Begini Kata Pakar Psikologi UNAIR (foto: istimewa)

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Akhir-akhir ini, jagat hiburan digemparkan dengan tren adopsi spirit doll atau boneka arwah. Boneka yang hanya sebagai benda mati, namun oleh sebagian orang dijadikan seperti makhluk hidup. Beberapa orang tersebut bahkan tidak segan untuk merawat para boneka arwah layaknya seorang bayi.

Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog, melihat fenomena tersebut sebagai hal yang perlu menjadi perhatian. Bahkan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (FPsi UNAIR) itu menyebut bahwa tindakan tersebut telah mengarah kepada perilaku yang tidak wajar.

“Ketika seseorang menganggap boneka tersebut hidup dan percaya bahwa mereka akan bertumbuh besar, maka hal itu telah keluar dari batas akal sehat. Perilaku tersebut menjadi keanehan tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor,” ujarnya.

Baca juga : D1 Milano Luncurkan Koleksi Jam Tangan Ikonik, Kolaborasi dengan Warner Bros

Salah satu faktor yang mungkin ada yakni mengikuti tren di kalangan selebritis. Bisa jadi, lanjutnya, mereka hanya mencari sensasi agar popularitasnya naik. Namun demikian, segala sesuatu tetap ada batasnya agar justru tidak merugikan kesehatan mental.

“Karena apabila perilaku tersebut dibiarkan terjadi secara terus-menerus, maka akan berdampak terhadap kondisi kesehatan mental seseorang. Jika ketidakwajaran itu tidak segera dihentikan, maka berisiko pada keadaan psikopatologinya (ketidakstabilan fungsi kejiwaan yang meliputi indera, kognisi, dan emosi, Red). Segala kondisi berisiko harus ditangani sedini mungkin agar tidak semakin sulit untuk mengembalikan kepada kondisi yang rasional dan realistis,” jelas Prof. Nurul.

Lebih lanjut, Prof. Nurul menjelaskan, sejatinya bagi sebagian orang bahwa boneka dapat menjadi strategi pemulihan mental (coping stress, Red). Misalnya ketika seseorang pernah kehilangan anaknya, maka boneka dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena secara psikologis juga boneka bisa menjadi sarana penyegaran pikiran bagi individu selama tidak berlebihan dan harus tetap di bawah pendampingan dari psikolog atau psikiater.

Baca juga : Pemerintah Putuskan Vaksinasi Booster Mulai 12 Januari Mendatang

“Akan tetapi terlepas dari manfaat tersebut, sejatinya boneka hanyalah benda mati. Mereka hanya menjadi perangkat yang tidak memiliki hal-hal khusus, kecuali hanya pengaruh dari perlakuan sang pemilik,” ungkap Prof. Nurul.

Prof. Nurul juga menegaskan, sebagai orang yang mungkin dekat dengan individu yang berperilaku di luar batas tersebut, tentu kita memiliki kewajiban untuk membantu mereka, seperti terlebih dahulu kita menanyakan penyebab mereka untuk bertindak demikian.

“Selagi jawabannya masih rasional, ya tidak apa-apa,” lanjutnya.

Lain halnya ketika ketidakwajaran semakin jelas terlihat, yakni benar-benar menganggap boneka tersebut hidup, maka menurut Prof. Nurul, kita dapat memberi nasehat bahwa perilaku mereka mulai mengkhawatirkan. Terakhir jika masih tidak ada perubahan, maka kita dapat membantu mengarahkan mereka untuk datang ke psikolog atau psikiater.

Baca juga : Jatim Pertahankan Provinsi Terbanyak PPKM Level 1 se-Jawa Bali

“Kuncinya adalah rasional, realistis, dan proporsional. Selama tiga hal itu terpenuhi, maka kita senantiasa objektif dalam memikirkan, merasakan, dan melakukan segala hal,” pungkas dosen yang juga anggota Ikatan Psikologi Klinis Indonesia tersebut. (JM01)