
Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Di tengah pusaran disrupsi teknologi dan ketidakpastian geopolitik global, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali meneguhkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang relevan dengan zaman. Melalui gelaran Wisuda ke-119 yang diikuti oleh 1.416 wisudawan pada Rabu (29/04/2026), kampus ini mengusung tema besar: “Wisudawan Unesa Tangguh, Mandiri, dan Adaptif untuk Resiliensi Global.”
Tema ini bukan sekadar jargon, melainkan respons nyata terhadap wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak lagi relevan. Menanggapi hal tersebut, Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, menyatakan bahwa pihak kampus sedang mengkaji secara mendalam portofolio akademik mereka agar tetap selaras dengan dinamika industri.
Menurut Prof. Nurhasan, evaluasi prodi di Unesa dilakukan secara selektif dan tidak bisa dipukul rata. Ia menekankan bahwa meski keterkaitan dengan industri (link and match) menjadi prioritas, ada aspek nilai strategis bangsa yang membuat sejumlah prodi harus tetap dipertahankan.

“Perlu kajian, karena ada prodi yang sudah link dengan industri, ada yang belum. Jadi, wacana ini masih perlu didiskusikan lebih lanjut,” jelasnya. Di sisi lain, Unesa juga terus mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum guna membentengi lulusan dari risiko hilangnya jenis pekerjaan tertentu di masa depan.
Menariknya, di tengah transformasi ini, Unesa tetap mengedepankan sisi humanis dengan memastikan tidak adanya kenaikan UKT. “Jangan sampai mahasiswa berhenti kuliah hanya karena persoalan biaya. Kami pastikan ada solusi melalui berbagai skema bantuan,” tegas Prof. Nurhasan.

Semangat resiliensi global yang diusung dalam wisuda kali ini terpancar nyata dalam sosok Elpanta Tarigan. Pemuda asal Deli Serdang, Sumatera Utara, yang memiliki tinggi badan dua meter ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi besar.
Elpanta, yang kehilangan penglihatannya sejak usia 12 tahun, berhasil menyelesaikan studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) hanya dalam waktu 7 semester dengan IPK gemilang 3,68. Tak hanya tangguh di bidang akademik lewat skripsinya mengenai peran Pertuni di Lamongan, ia juga merupakan atlet berbakat yang pernah menyabet medali emas tolak peluru pada ajang Paralimpik Pelajar Nasional 2017.
Perjalanannya merantau dari Medan ke Surabaya penuh dengan tantangan, mulai dari adaptasi budaya hingga menghadapi cibiran sosial. Namun, kegigihannya membuahkan hasil manis. Di hari bahagianya, Rektor Unesa memberikan kejutan berupa beasiswa penuh untuk melanjutkan studi S2 di Unesa.
Mengenang masa-masa sulitnya, Elpanta berbagi pesan emosional tentang bagaimana ia bisa bertahan dan bangkit:
“Awalnya sangat sulit menghadapi banyak tantangan, mulai dari cibiran di sekitar hingga perubahan budaya dari Medan ke Jawa. Namun, dukungan keluarga, teman-teman, dan para pendidik di Unesa membantu saya menyelesaikan pendidikan ini. Saya meyakini apa yang saya alami sekarang pasti akan ada yang lebih baik ke depannya. Saya sangat bersyukur mendapatkan beasiswa S2 ini; rencana saya adalah menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin, kemudian kembali ke Medan untuk mengabdi sebagai guru atau dosen di sekolah negeri.”
Kisah Elpanta Tarigan menjadi bukti nyata bahwa dengan kemandirian dan kemampuan adaptasi yang kuat—sebagaimana tema wisuda kali ini—seorang lulusan tidak hanya akan bertahan, tetapi juga mampu berkontribusi signifikan bagi pembangunan nasional yang inklusif. (JM02)














