Home Ekonomi Bisnis Geliat Pasar Modal Jatim: BEI Tawarkan Fleksibilitas ETF bagi Investor Pemula

Geliat Pasar Modal Jatim: BEI Tawarkan Fleksibilitas ETF bagi Investor Pemula

0
13
Geliat Pasar Modal Jatim: BEI Tawarkan Fleksibilitas ETF bagi Investor Pemula, Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, Cita Mellisa, Rabu (06/05)
Geliat Pasar Modal Jatim: BEI Tawarkan Fleksibilitas ETF bagi Investor Pemula, Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, Cita Mellisa, Rabu (06/05)

Surabaya, JATIMMEDIA.COM– Jawa Timur semakin mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan baru pasar modal nasional. Hingga Desember 2025, jumlah investor di wilayah ini tercatat telah menembus angka fantastis, yakni 2 juta Single Investor Identification (SID). Kota Surabaya tampil sebagai motor utama dengan menyumbang sekitar 20 persen dari total investor, disusul Sidoarjo sebesar 9 persen, serta Jember dan Malang yang masing-masing berkontribusi 6 persen.

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, Cita Mellisa, mengungkapkan bahwa pesatnya pertumbuhan ini didukung oleh ekosistem edukasi yang sangat kuat. “Jawa Timur kini memiliki 92 Galeri Investasi BEI, tertinggi secara nasional. Ini menunjukkan edukasi dan literasi investasi di daerah berkembang sangat pesat,” ujarnya dalam Workshop Wartawan Daerah di Surabaya, Rabu (06/05).

Namun, di balik lonjakan jumlah investor ritel tersebut, pasar modal Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait likuiditas, khususnya porsi saham beredar di publik (free float). Cita menjelaskan bahwa rendahnya free float seringkali menjadi pemicu munculnya fenomena “saham tidur”.

“Dulu batas minimal free float hanya 7,5% dan itu sudah dianggap memenuhi ketentuan. Padahal, jika dibandingkan dengan bursa regional, porsi saham publik bisa mencapai 80%,” jelas Cita.

Menanggapi kritik dari pelaku pasar global seperti MSCI, regulator kini mulai memperketat aturan dengan menaikkan ambang batas tersebut. Meski demikian, Cita menilai level saat ini masih perlu ditingkatkan demi menjaga kepercayaan investor asing dan kredibilitas pasar.

“Kalau ingin benar-benar likuid dan sesuai standar internasional, seharusnya perusahaan yang melantai di bursa melepas minimal 20% hingga 25% sahamnya ke publik,” tegasnya. Saat ini, regulator pun telah memberikan masa transisi hingga 2027 bagi emiten untuk menyesuaikan ketentuan tersebut sembari memperketat pengawasan terhadap kualitas laporan keuangan dan latar belakang manajemen.

BACA JUGA  Gelaran Life with BSI Expo di Surabaya Targetkan Transaksi Rp 100 Milyar

Sebagai jawaban atas kebutuhan investor ritel yang terus tumbuh di Jawa Timur, instrumen Exchange Traded Fund (ETF) kini mulai diperkenalkan secara luas. ETF dinilai sebagai solusi bagi masyarakat umum yang ingin berinvestasi dengan modal terjangkau namun tetap mendapatkan diversifikasi risiko yang optimal.

Cita Mellisa menjelaskan bahwa ETF memiliki karakter unik yang menggabungkan fleksibilitas saham dengan kemudahan reksa dana. “ETF itu pada dasarnya reksa dana, tetapi diperdagangkan langsung di bursa seperti saham. Jadi harganya transparan dan bisa dipantau secara real time,” jelasnya.

Menurutnya, instrumen ini sangat cocok bagi mereka yang ingin berinvestasi tanpa harus repot menganalisis saham satu per satu karena portofolionya telah dikelola secara profesional oleh manajer investasi.