Home Umum Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas...

Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas Bangsa

0
4
Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas Bangsa, Rektor Unesa, Nurhasan membuka acara Dialog dan Festival Kebangsaan ke-7 tahun 2026
Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas Bangsa, Rektor Unesa, Nurhasan membuka acara Dialog dan Festival Kebangsaan ke-7 tahun 2026 Sabtu (09/05)

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menggelar perhelatan akbar bertajuk Dialog dan Festival Kebangsaan ke-7 tahun 2026. Acara yang mengusung tema besar “Mengenal Diri, Mengenal Indonesia” ini merupakan hasil kolaborasi antara Unesa, Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Kampus II Unesa Lidah Wetan, Sabtu (09/05), ini dirancang untuk mempertemukan dunia akademisi, seniman, dan budayawan dalam satu ruang kolaborasi.

Rektor Unesa, Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan, menekankan bahwa seni dan budaya adalah kekuatan utama Indonesia di kancah global.

“Musik menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan ribuan suku, budaya, dan bahasa di Indonesia tanpa harus dibatasi perbedaan,” ujar Cak Hasan.

Ia juga menambahkan bahwa di era digital ini, kemasan teknologi menjadi kunci pelestarian budaya.

“Mari gunakan platform digital untuk mengenalkan serta melestarikan warisan kita, agar jati diri bangsa tidak meluntur dan tetap abadi sepanjang zaman,” tegasnya.

Acara dimulai dengan sesi Dialog Kebangsaan di Graha Unesa yang menghadirkan narasumber lintas generasi, mulai dari Bimbim Slank, Once Mekel, Alffy Rev, hingga mahasiswa disabilitas berprestasi Nanda Mei Solichah.

Dalam diskusi tersebut, Alffy Rev menyoroti tantangan generasi muda yang kerap menginginkan hasil instan. Menurutnya, perkembangan manusia adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan proses.

Senada dengan itu, Bimbim Slank menilai bahwa arus globalisasi seperti fenomena K-Pop seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan pemacu inovasi.

“Justru K-Pop atau musik dunia membuat kita lebih berpacu, bersaing, dan terinspirasi. Budaya kita itu lengkap banget dan banyak yang bisa dieksplorasi,” kata Bimbim.

BACA JUGA  ITS, Nokia–Indosat Luncurkan 5G Experience Center Pertama di Indonesia

Ia juga menjelaskan mengapa Slank tetap konsisten mengangkat isu sosial dan lingkungan karena masih adanya ketimpangan di masyarakat.

Tak hanya soal kreativitas, aspek regulasi juga menjadi bahasan hangat. Once Mekel, yang kini juga berkiprah di parlemen, menjelaskan bahwa perannya sebagai musisi dan anggota dewan saling terhubung demi kesejahteraan pekerja seni.

“Saya berusaha agar Undang-Undang Hak Cipta bisa menjadi jalan tengah baik untuk pencipta, penyanyi, dan berbagai pihak lain,” jelas Once.

Setelah diskusi mendalam di siang hari, semangat kebangsaan berlanjut hingga malam hari melalui Festival Kebangsaan di Lapangan Rektorat. Suasana semakin meriah dengan kehadiran Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang mengapresiasi langkah Unesa dalam menciptakan ruang pendidikan yang inklusif.

“Kampus ini terbukti bukan hanya melihat pendidikan dari sudut pandang yang kaku, tetapi ingin ruang-ruang kampus yang asri ini diisi dengan kreativitas panjenengan semua,” puji Emil di hadapan ribuan mahasiswa.

Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas Bangsa
Harmoni Kebangsaan di Unesa: Kolaborasi Musisi dan Akademisi Ajak Mahasiswa Cintai Identitas Bangsa, Penampilan Alffy Rev bersama Novia Bachmid dan Once Mekel dalam Panggung festival Sabtu (09/05)

Panggung festival menjadi saksi harmoni antara musik modern dan tradisional. Penampilan Alffy Rev bersama Novia Bachmid dan Once Mekel sukses memukau penonton lewat perpaduan musik elektronik yang megah namun tetap kental dengan nuansa lokal.

Miftahul Falah, mahasiswa Sastra Inggris, mengaku terkesan dengan konsep tersebut. “Keren banget, konsepnya menyatukan dua hal yang berkontradiksi, elektronik dan tradisional, tapi menciptakan suatu harmoni yang unik,” ujarnya.

Sebagai puncak acara, grup band legendaris Slank tampil menghentak panggung. Lagu ikonik “Ku Tak Bisa” yang dinyanyikan bersama ribuan mahasiswa menjadi penutup yang emosional sekaligus memperkuat pesan bahwa musik adalah alat pendidikan karakter yang efektif di lingkungan kampus.

Bagi para mahasiswa, seperti Balqis Ayu Saraswati, acara ini bukan sekadar hiburan pelepas penat, melainkan momentum untuk kembali mengenali jati diri mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia. (JM02)

BACA JUGA  Perkuat Infrastruktur Digital, Biznet Gelar Festival dan Ekspansi Kabel Bawah Laut di Surabaya