
Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Isu kekerasan seksual di lingkungan akademik kembali menjadi sorotan utama dalam forum diskusi panel Gema Kebangsaan yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Acara yang berlangsung di Auditorium Gedung Rektorat Kampus II Lidah Wetan pada Sabtu (09/05) ini menghadirkan dua pejabat negara, yakni Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi.
Diskusi yang dimoderatori oleh Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjadikan kampus sebagai ruang aman bagi seluruh civitas academica.
Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat belajar, melainkan laboratorium peradaban yang sangat strategis untuk membentuk karakter pemimpin masa depan yang berintegritas.
Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau prestasi akademik semata, tetapi juga dari sejauh mana kampus mampu menjadi ruang aman dalam melindungi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak.
“Selain sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, kampus merupakan laboratorium peradaban yang mempersiapkan pemimpin masa depan dengan empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” tegas Arifah.
Kekhawatiran Arifah didasarkan pada data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 yang menunjukkan fakta memprihatinkan: satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual. Selain itu, data remaja juga menunjukkan kerentanan serupa, di mana satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami bentuk kekerasan serupa.
Kondisi ini menuntut peran aktif seluruh warga kampus untuk menciptakan lingkungan yang menjunjung tinggi kemanusiaan, kesetaraan, serta tegas menolak segala bentuk kekerasan.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengingatkan bahwa meskipun Satuan Tugas (Satgas) PPKS telah terbentuk di kampus-kampus, upaya preventif melalui sosialisasi tidak boleh kendur. Ia menekankan bahwa dampak kekerasan memiliki efek domino yang merugikan lingkungan luas.
“Kampus adalah pusat pengetahuan, peradaban, dan kemajuan bangsa. Karena itu, kondisi di dalam kampus, termasuk persoalan kekerasan, harus mendapat perhatian serius agar kampus tetap menjadi ruang aman sekaligus mitra strategis negara dan pemerintah,” ujar Brian.
Brian mendorong jajaran pimpinan perguruan tinggi untuk lebih proaktif dalam menyebarkan informasi perlindungan dan kanal pelaporan di titik-titik strategis agar seluruh warga kampus mendapatkan akses keadilan yang mudah.
Selain membahas isu sosial, kunjungan kerja ini juga menyoroti aspek keberlanjutan lingkungan. Mendiktisaintek menyempatkan diri meninjau inovasi pengelolaan sampah mandiri di bawah Direktorat Smart Eco Campus Unesa.

Ia mengapresiasi efektivitas sistem pemilahan dan daur ulang yang diterapkan Unesa sebagai model yang patut dicontoh oleh pemerintah daerah.
Sebagai simbol komitmen nyata terhadap kelestarian alam, Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. (Cak Hasan), menutup rangkaian diskusi dengan membacakan deklarasi “Unesa Go Zero Waste”. Deklarasi ini menandai langkah tegas Unesa dalam mengurangi residu sampah secara mandiri guna mewujudkan ekosistem kampus yang hijau dan berkelanjutan. (JM02)














