
Sementara salah seorang siswa kelas 6 SD Al Islam Al Falah Surabaya, Ismatullah Alkautsar yang diminta komentarnya, mengaku sangat senang bisa melakoni Pondok Ramadhan meski secara daring. Menurutnya ini menarik karena tak hanya berbarengan dengan teman sekelasnya saja, tapi juga dengan para siswa kelas lainnya yang jumlahnya mencapai 700 peserta didik.
“Ya senang, karena bisa belajar ramai-ramai,” ujarnya.
Senada dengan Alkaautsar, ibundanya (Atik Aryani, red) mengaku bahwa kegiatan daring selama Ramadhan adalah salah satu solusi yang terbaik. Mengingat, kondisi saat ini belum memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka.
“Ramadhan ini penting. Dan mengenalkan pada anak-anak sejak dini untuk sukacita menyambut Ramadhan adalah hal yang penting juga. Jadi apapun sarananya atau medianya, sekalipun harus virtual, ya harus kita support, supaya anak-anak juga termotivasi,” kata Atik.
Baca juga : Tegas Larang Mudik, Menteri Perhubungan Imbau Masyarakat Tetap di Rumah Saja
Atik mengaku juga telah berdiskusi lebih lanjut pada para orangtua peserta didik lain dan para guru. Dan menurutnya, banyak guru-guru yang mendorong para orangtua harus memotivasi anak untuk ikut zoom secara intens.
“Ya meski tugas orangtua semakin bertambah dengan sistem daring ini, namun kalau sebagai orangtua kita betul-betul consern dan mementingkan pendidikan anak, maka kita juga harus mau repot dan mau berkorban demi anak-anak, agar tetap mendapatkan pendidikan yang baik,” tambah Atik.
Halaman selanjutnya: Saat disinggung perihal pembelajaran tatap muka…














