Abdi Karya ITS Rancang Instalasi Pengolahan Limbah Laundry Berbasis 3R

0
0
Abdi Karya ITS Rancang Instalasi Pengolahan Limbah Laundry Berbasis 3R
Denah bagian dalam laundry yang dilengkapi IPAL untuk pengolahan limbah air cucian dengan prinsip 3R rancangan tim Abdi Karya ITS

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Kian menjamurnya Usaha Skala Kecil (USK) laundry, rupanya turut menghadirkan permasalahan, karena juga menghasilkan limbah berbahaya yang dapat mencemari lingkungan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim Abdi Karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, merancang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk laundry berbasis reuse, recycle, dan recovery (3R).

Ketua tim Abdi Karya, Cindy Synthia Putri mengungkapkan, jika banyak usaha laundry saat ini yang tidak memiliki IPAL. Limbah air laundry yang mereka hasilkan cenderung dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dulu. Padahal, limbah ini mengandung ragam zat yang berbahaya.

“Kandungan ini berasal dari campuran deterjen dan kotoran pada pakaian,” ungkap Cindy.

Kandungan berbahaya dari limbah tersebut, menurut Cindy, antara lain adalah Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), dan fosfat.

“Nilai BOD dan COD yang tinggi dapat menyebabkan defisit oksigen yang larut di air. Sementara TSS mampu mengeruhkan air dan menghalangi cahaya matahari masuk. Sedang fosfat dapat mendegradasi kehidupan biota air dan meningkatkan unsur hara,” jelasnya.

Oleh karenanya, lanjut Cindy, USK laundry memerlukan unit pengolahan yang dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan tersebut. Desain IPAL rancangan Cindy dan tim ini bersifat portabel. Selain itu, IPAL ini memiliki ukuran yang sesuai dengan kesediaan ruangan laundry skala kecil. Sehingga tidak akan memakan banyak tempat.

Cindy juga menerangkan, jika limbah keluaran alat ini akan dikumpulkan dahulu pada bak pengumpul. Selanjutnya, limbah akan disaring menggunakan pasir kali melalui proses  filter biosand. Lalu, air olahan akan melalui dua kali proses adsorpsi karbon aktif menggunakan adsorben tempurung kelapa.

“Terakhir, limbah yang telah diolah ini akan menjadi bersih dan dapat dikumpulkan ke dalam tandon air,” ujarnya.

Menurut Cindy, IPAL rancangan mereka semakin unggul berkat penerapan 3R. Prinsip recycle terlihat pada air olahannya yang dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman hidroponik, mencuci kendaraan, serta dapat dialirkan ulang ke unit pengolahan lagi. Selain itu, pasir kali yang mulai kotor akibat proses filter dapat digunakan kembali (reuse) setelah dicuci dengan air bersih.

“Sementara, adsorben jenuh yang dihasilkan dapat dimanfaatkan (recovery) sebagai pupuk,” sebutnya.

Jerih payah mereka pun berhasil membawa prestasi. IPAL rancangan tim Abdi Karya ITS ini telah berhasil meraih juara utama kategori USK Laundry dan Batik dalam lomba Desain Inovasi IPAL 2020, pada 18 September lalu. Pada kompetisi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, Abdi Karya berhasil mengungguli 68 tim lain dari perguruan tinggi nasional dan luar negeri. (JM01)