Home Umum Direktur Humas Unesa Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus

Direktur Humas Unesa Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus

0
18
Direktur Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus
Direktur Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus

Surabaya, JATIMMEDIA.COM —  Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong kualitas akademik para dosen, salah satunya dengan memotivasi para pengajar berkualifikasi magister (S-2) untuk melanjutkan studi hingga jenjang doktor (S-3). Salah satunya adalah Vinda Maya Setianingrum, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa, baru saja berhasil meraih gelar doktornya.

Perempuan yang dipercaya menahkodai Direktorat Humas dan Informasi Publik Unesa itu berhasil menyandang gelar doktor ilmu komunikasi spesialis komunikasi krisis. Gelar ini diraihnya setelah  sukses menjalani sidang terbuka doktor di Prodi S-3 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Selasa, 16 Juli 2025.

Direktur Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus
Direktur Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum Raih Doktor: Strategi Komunikasi Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus

Dalam ujian penentuan yang dihadiri jajaran pimpinan dan civitas Unesa itu, Vinda Maya memaparkan disertasi yang berjudul “Pengelolaan Komunikasi dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi.”  Melalui risetnya, Vinda memaparkan tentang cara perguruan tinggi negeri di Indonesia dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Lokus penelitian di fokuskan di Universitas Riau (Unri), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Indonesia (UI), yang berpengalaman dalam merespons kasus.

“Saya meneliti cara kampus dalam mencegah dan menangani kekerasan seksual dari perspektif komunikasi krisis. Outputnya, tidak hanya memahami strategi kampus, tetapi juga merumuskan pendekatan komunikasi dalam mencegah dan menangani kekerasan seksual,” ucap dosen yang memperkuat kepakaran bidang komunikasi strategik dan komunikasi krisis itu.

Ia mengulas dinamika pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual menggunakan perpaduan teori Communicative Constitution of Organization (CCO) pendekatan Four Flows atau empat aliran, yang diintegrasikan secara cerdas dengan teori Rhetorical Arena Theory (RAT).

Hasil penelitiannya menunjukkan, pada level pencegahan, strategi komunikasi yang terbuka dan partisipatif mendorong terbentuknya budaya kampus yang empatik dan responsif. Sementara itu, pada level penanganan, strategi komunikasi yang cepat, empatik, pro-korban, anti-stigma, serta penyediaan kanal pelaporan yang aman adalah faktor krusial.

BACA JUGA  KISAKU Kolaborasikan UMKM, Untuk Memajukan Perekonomian

Meraih gelar doktor tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ibu dua anak ini mencertakan perjuangannya. “Sabar, punya target, dan strategi manajemen waktu atau prioritas itu yang saya terapkan sehingga semua bisa berjalan lancar, baik itu bersama keluarga di rumah, ngajar di prodi, tanggung jawab di rektorat, kuliah di UNS, dan penelitian di UI, Unand, dan Unri,” ungkapnya. (JM02)