Penderita Thalassemia : Hidup Saya Ibaratnya Bergantung pada BPJS Kesehatan

0
124
Penderita Thalassemia : Hidup Saya Ibaratnya Bergantung pada BPJS Kesehatan
Theo Ivan Widianto (24 th)

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Memiliki penyakit yang tidak bisa sembuh tentu menjadi permasalahan pelik bagi penderita. Termasuk juga harus memiliki dana yang tak terbatas, karena biaya pengobatannya akan sangat besar. Kondisi inilah yang dialami Theo Ivan Widianto (24 th) yang mengalami Thalassemia.

Thalassemia sendiri merupakan penyakit kelainan darah yang merupakan penyakit keturunan, yaitu mutasi genetik yang diwariskan dalam keluarga. Seseorang bisa mengidap thalasemia jika salah satu atau kedua orangtuanya juga mengidap penyakit ini. Selain itu, ras dan etnis tertentu juga meningkatkan risiko penyakit ini.

Mutasi yang terjadi pada DNA yang membuat hemoglobin pembawa oksigen ke seluruh tubuh merupakan penyebab seseorang bisa mengidap thalassemia. Penyakit ini terjadi akibat kelainan pada faktor genetika, tetapi penyebab pasti mutasi gen ini bisa terjadi belum diketahui.

Theo yang didiagnosa menderita Thalassemia sejak kecil ini menceritakan bahwa awal diketahuinya bahwa ia menderita Thalassemia  adalah saat berusia 2 tahun mengalami panas demam yang terus menerus. Dari pemeriksaan awal, dokter mendiagnosa sebagai anemia. Namun setelah dilakukan transfusi darah, tetapi ternyata masih panas dan demam.

Baca juga : Amalia : Tanpa BPJS Kesehatan, Apa Yang Akan Terjadi Pada Anak Saya?

“Dari situ kemudian dilakukan cek darah lengkap. Baru ketahuan bahwa saya menderita Thalassemia,” cerita Theo pada jatimmedia.com, Selasa (17/11/2020).

Sejak saat itu, lanjut Theo, orang tuanya terus berupaya untuk menyembuhkannya dengan berbagai cara. Yang pasti tiap 3 bulan dilakukan kontrol rutin ke rumah sakit.

“Ya pada awal-awalnya orang tua saya mengobati saya di rumah sakit swasta dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk biaya, orang tua saya menjual aset dan barang-barang yang dimilikinya karena pengobatan Thalassemia cukup mahal,” ujar Theo sambil merasakan kepedihan orang tuanya yang berjuang agar ia bisa selamat dan hidup normal.

Dari RS swasta, lanjut Theo, akhirnya dokternya menyarankan ke orang tua saya untuk berobat rutin ke RS dr Soetomo saja karena biayanya relatif lebih rendah dari RS swasta.

Baca juga : Bersama BPJS Kesehatan, Saya Tenang

“Maka dari itulah akhirnya orang tua saya melakukan pengobatan saya ke RS dr Soetomo. Tapi ya tetap aja butuh biaya besar untuk pengobatan saya,” lanjutnya.

Theo melanjutkan ceritanya, bahwa baru sekitar tahun 2014 atau 2015, dokter yang merawatnya di RS Soetomo menyarankan menggunakan BPJS karena kasih dengan orang tuanya yang sudah habis-habisan untuk pengobatannya.

“Sebaiknya bapak ikut BPJS Kesehatan supaya biaya bisa di cover, karena penyakit ini akan bersama terus sepanjang hidup,” terang Theo menirukan saran dokter kepada ayahnya.

Dan sejak saat itu, orang tua Theo menjadi lebih lega dan tenang karena seluruh biaya pengobatan dan perawatan Theo ditanggung BPJS Kesehatan.

“Ya ibaratnya hidup saya tergantung pada BPJS Kesehatan Mas. Karena penderita Thalassemia harus melakukan pengobatan seumur hidup,” ujar Theo.

Baca juga : BPJS Kesehatan Beri Keringanan Bayar Iuran Melalui Mobile JKN

Theo yang sempat bekerja di toko elektronik namun kemudian tutp karena pandemi Covid-19 ini menjelaskan bahwa selama menjalani pengobatan dan perawatan dengan menggunakan BPJS Kesehatan dengan jalur penerima bantuan iuran (PBI) dari pemkot Surabaya , tidak pernah ada masalah. Bahkan sekarang, dari kontrol tiap 3 bulan sudah menjadi sebulan sekali.

“Pelayanan yang saya terima baik-baik saja dan tidak ada diskriminasi sama sekali dan tidak dipersulit. Hanya saja prosedur di RS nya agak panjang karena harus bawa copy KK cukup banyak untuk di loket, lalu di bagian farmasi dan sebagainya,” terangnya, sambil berharap prosedur ini bisa lebih diperpendek alurnya.

Theo juga menyampaikan bahwa ia sangat terbantu dengan adanya program JKN dari BPJS Kesehatan ini, karena untuk pengobatan yang dilakukan setiap sebulan sekali, perkiraan biaya yang harus dikeluarkan rata-rata sekitar Rp 1,5 juta untuk perawatan dan sekitar Rp 6 juta buat obat.

“jadi bisa dibayangkan kalau tidak ada BPJS Kesehatan yang mengcover biaya pengobatan saya, tentu sdaya tidak dapat bertahan lebih lama karena tentu kami kehabisan biaya untuk berobat,” pungkas putra dari seorang single parent mother yang bekerja sebagai relawan di Yayasan Popti Thalassemia RS dr Soetomo Surabaya. (JM01)