
Sepanjang Lock Down Sydney terbaru, lanjutnya, pihaknya telah melihat permintaan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Dan melihat tren yang berkelanjutan, maka tidak akan terkejut bila melihat harga segera naik.
Baca juga : KA Jarak Jauh hanya untuk Perjalanan Esensial, Kritikal, dan Mendesak
Senada dengan penjelasan tersebut, Direktur Penjualan dan Pemasaran Crown Group Indonesia, Tyas Sudaryomo mengungkapkan, seperti halnya pisau, pandemi Covid-19 ini memiliki 2 sisi yang saling bertentangan.
“Kita tidak menutup mata bahwa kerusakan yang dihasilkan oleh pandemi ini sangatlah luar biasa terutama jika dilihat dari varian baru yang lebih menular, Namun di sisi lain, pandemi yang telah berjalan sekitar 1,5 tahun ini menciptakan kebiasaan baru terutama dalam hal keuangan, baik itu dari sisi pemerintah maupun swasta dan rumah tangga,” ujarnya.
Tyas menambahkan, kombinasi dari stimulan dan kebijakan bunga rendah pemerintah, ditambah pengeluaran rumah tangga yang jauh lebih selektif, jumlah populasi yang rendah karena penurunan angka imigrasi turut mempengaruhi kondisi pasar properti khususnya di Australia.
“Ditambah kebutuhan masyarakat domestik saat ini akan tempat tinggal yang memiliki konsep biofilik akan terus memberi bahan “aditif” kepada pasar. Dan ini membuat pertumbuhan harga rumah tapak secara alami juga akan ikut mengerek harga unit apartemen. Belum lagi dari kalangan investor yang melihat bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk melakukan investasi,” terang Tyas.
Baca juga : Ini SE Satgas Covid-19 Soal Pembatasan Aktivitas Masyarakat Selama Idul Adha
Meskipun Australia sedang menghadapi gelombang kedua Covid-19 seperti halnya di Indonesia, namun alumnus University of Sydney ini meyakini bahwa pasar properti Austalia akan lebih siap.
“Mengingat pengalaman dan keberhasilan Negara Kangguru dalam menangani gelombang pertama Covid-19, saya memiliki keyakinan bahwa pasar properti di Australia kali ini akan lebih “tahan banting.” ujar Tyas. (JM01)














