Ini Tips Berorganisasi di Kampus dari Psikolog SEVIMA

0
3
Ini Tips Berorganisasi di Kampus dari Psikolog SEVIMA
Ini Tips Berorganisasi di Kampus dari Psikolog SEVIMA

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Seiring dengan menurunnya kasus COVID-19 di Indonesia, beberapa kampus telah mulai menggelar kuliah tatap muka. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) misalnya, sudah melakukan perkuliahan secara hybrid (bauran online–offline) sejak September lalu.

Anandre Forastero, Psikolog SEVIMA, menyatakan bahwa perkuliahan secara tatap muka juga otomatis akan mengembalikan aktivitas organisasi para mahasiswa di kampus. Terlebih, beberapa mahasiswa telah menjadikan organisasi sebagai sebuah kegemaran, karena berorganisasi memiliki segudang manfaat, mulai dari mengasah jiwa kepemimpinan, hingga memperluas jaringan pertemanan maupun profesional.

“Di masa pandemi ini, mahasiswa perlu untuk lebih mengerti mengenai leadership di dalam sebuah organisasi. Agar mahasiswa bisa memetik hasil dalam berorganisasi secara optimal, di tengah keterbatasan yang kita miliki saat ini akibat Pandemi,” ungkap Anandre.

Berikut tips cerdas dalam berorganisasi versi Anande :

  • Lakukan manajemen meeting dengan baik

Dalam sebuah organisasi, kamu akan lebih mudah melakukan sebuah kegiatan dengan meeting management yang bagus. Nah, meeting manajemen ini akan dibagi menjadi dua, yaitu intensitas dan set-up.

Intensitas disini harus diperhatikan terkait dengan rutinitas meeting, pembagian tugas, dan koordinasi.

Baca juga : Hari Guru Nasional 2021, Gubernur Khofifah Dorong Para Guru Terus Upgrade…

“Pastikan meeting yang kalian lakukan tepat sasaran. Pahami goalsnya dan siapa yang perlu ikut. Ada beberapa hal yang lebih  baik dikoordinasikan secara personal daripada dalam group ataupun pertemuan langsung. Terlebih di masa pandemi, sebisa mungkin pertemuan tatap muka hanya untuk aktivitas yang urgen, dan jangan lupakan protokol kesehatan” terang Anandre.

Bagian yang kedua, set-up, merupakan pembagian acara dalam sebuah meeting. Mahasiswa harus benar-benar memperhatikan ini dengan sangat baik.

“Dalam sebuah meeting itu sebaiknya ada 3 bagian, yaitu prolog, isi dan penutup. Prolog ini bertujuan untuk menentukan arah tujuan meeting kalian biar tak ngalor ngidul. Kemudian lanjutkan dengan isi dan akhiri dengan say thanks (terima kasih) ke mereka yang sudah hadir,” tambahnya.

  • Jaga Manajemen Emosi

Manajemen emosi juga menjadi salah satu hal terpenting dalam sebuah ilmu leadership. Mengatur emosi benar-benar sangat penting. Terlebih di masa pandemi ini, komunikasi akan lebih banyak dilakukan secara elektronik seperti lewat chat, telepon, maupun video call. Sudah wajar bahwa salah paham rentan terjadi jika komunikasi tak dilangsungkan secara tatap muka.

Baca juga : Axioo Bersama Maspion IT Mal Gelar Axioo Class Program untuk SMK…

“Dalam sebuah organisasi, marah yang berlebihan justru akan membawa dampak yang buruk. Disini pentingnya manajemen emosi dalam kepemimpinan. Kita perlu memilah mana situasi yang butuh rasa amarah dengan porsi yang secukupnya dan mana situasi yang sebenarnya tidak perlu rasa marah,” ujarnya.

  • Menjaga Pola Pikir Positif

Mengikuti organisasi harus diikuti dengan perubahan pola pikir dalam diri. Mindset utama yang harus kamu ubah adalah “kamu tak akan bisa menyenangkan semua orang”. Jadi kamu harus menegur tim kamu jika melakukan sebuah kesalahan tanpa rasa sungkan.

Dalam berorganisasi, lanjut Anande, kamu tak boleh sungkan dan tidak enakan ketika harus menegur teman dekat kita yang melakukan kesalahan dalam bekerja. Semakin kamu berusaha menyenangkan semua orang, kamu tidak akan menyenangkan siapapun.

“Ini harga yang pasti harus dibayar sebagai seorang leader. Tugas kita adalah memastikan setiap anggota bertumbuh dan berkembang sesuai dengan porsinya masing-masing,” tegasnya.

Baca juga : Bank Indonesia akan Borong SBN Sebesar 224 Triliun pada Tahun 2022

Memang tak mudah untuk menjadi seorang leader. Namun, semakin kamu belajar dengan baik, maka kamu akan lebih mudah dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam sebuah organisasi.

“Meskipun tak jarang pilihan yang kamu ambil akan membuat orang lain kecewa. But it’s okay, itulah namanya seni dalam memimpin,” pungkas Anandre. (JM01)