Pasien Pneumonia : Pelayanan Medis Pakai BPJS Okey-Okey Saja. Hanya soal Rujukan Rawat Jalan yang Cukup Merepotkan

0
13
Pasien Pneumonia : Pelayanan Medis Pakai BPJS Okey-Okey Saja. Hanya soal Rujukan Rawat Jalan yang Cukup Merepotkan
Pasien Pneumonia, Dhima Yudianto (35th)

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Memiliki penyakit, apalagi penyakit yang berat dan beresiko, tentu bukan keinginan atau pilihan. Namun apadaya, terkadang penyakit bisa saja menyerang kapan saja. Begitupula dengan yang dialami Dhima Yudianto (35th) seorang wirausaha yang beralamat di jalan Ikan Bandeng No. 41, Perumahan Tambak Rejo Indah, Sidoarjo.

Sekitar 2 tahun lalu Yudianto sempat dirawat di RS Siloam karena penyakit Diabetes dengan biaya sendiri karena belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Pada saat rawat inap itulah sebenarnya tanda-tanda adanya penyakit radang paru-paru yang populer disebut Pneumonia atau “paru-paru basah” sudah mulai terdeteksi.

Seperti diketahui, Pneumonia adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Pneumonia bisa menimbulkan gejala yang ringan hingga berat. Beberapa gejala yang umumnya dialami penderita pneumonia adalah batuk berdahak, demam, dan sesak napas.

Pada kondisi ini, infeksi menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru-paru. Akibatnya, alveoli bisa dipenuhi cairan atau nanah sehingga menyebabkan penderitanya sulit bernapas.

Baca juga : Walikota Risma Borong Merpati Unik saat Buka Pameran dan Bazar Merpati…

Dari sekian banyak penyakit yang bisa menyerang paru-paru, pneumonia adalah salah satu yang paling berbahaya yang perlu diwaspadai, karena bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan tidak jarang menyebabkan kematian.

Namun demikian, seperti diceritakan istri Yudianto yang bernama Astrid (33th), saat itu yang dipikirkan hanya masalah diabetesnya saja.

“Waktu itu sebenarnya dokter yang memeriksa sudah memberitahu bahwa ada yang tidak beres dengan paru-paru suami saya. Tapi kami mengabaikan itu, karena kami pikir tidak ada yang serius dan fokus pada diabetesnya saja,” terang Astrid pada jatimmedia.com, Senin (30/11/2020).

Membiarkan diagnosa awal yang sempat dikatakan dokter di RS Siloam 2 tahun lalu, lanjut Astrid, merupakan kesalahan yang mereka lakukan, karena sekitar 2 minggu lalu, tiba-tiba suaminya demam dan batuk-batuk berat bahkan sampai muntah bila batuk.

“Melihat kondisi suami saya yang semakin berat dan merasakan kesakitan, akhirnya kami membawanya ke gawat darurat RSAL Surabaya. Disana suami saya mulai mengalami pengecekan yang panjang, mulai cek darah, torak, sampai rapit tes karena dikuatirkan ada kemungkinan Covid-19,” terangnya.

Baca juga : Bank Indonesia Peduli Pengembangan Bisnis Kopi

Bahkan, menurut Astrid, suaminya sempat dimasukkan IGD khusus Covid dan dilakukan pengecekan darah lagi hingga swab. Dan kemudian dipindahkan di ruangan isolasi.

“Sykurnya ternyata hasil dua kali swab menunjukkan negatif, sehingga kemudian dipindahkan ke ruangan biasa,” lanjut Astrid.

Disinilah kemudian dokter RSAL menyarankan saya untuk mengurus BPJS supaya tidak terbeban biaya besar.

“Sebenarnya sejak kejadian obname di RS Siloam beberapa waktu lalu, kami kemudian mendaftar BPJS Kesehatan. Namun kami menunggak dan tidak membayar iurannya. Karena itulah saya segera mengurus BPJS Kesehatan suami saya dan membayar dendanya sekitar Rp 1,3 juta,” jelas Astrid.

Astrid juga menerangkan bahwa karena kepesertaan BPJS-nya adalah kelas satu. Namun karena waktu itu kelas satu penuh maka Yudianto (suaminya, red) sementara diberi kamar di kelas dua dan baru dipindah ke kelas satu setelah sekitar sehari ada pasien kelas satu yang pulang.

Baca juga : Penderita Thalassemia : Hidup Saya Ibaratnya Bergantung pada BPJS Kesehatan

“Saya memang ditanya sama RS karena kelas satu penuh, bagaimana kalau di kelas dua dulu sambil menunggu ada yang kosong di kelas satu. Dan saya meng-iya-kan saja supaya suami saya bisa segera di tangani,” lanjutnya.

Menurut Astrid, pelayanan rumah sakit (RS) sangat baik meski dia menggunakan BPJS Kesehatan.

“Pelayanan RS sangat baik kok. Suami saya langsung mendapat perawatan dengan baik,” terang Astrid.

Sempat dirawat 6 hari di RSAL, Yudianto kemudian diijinkan pulang namun harus melakukan beberapa tes lagi termasuk tes FNAB Paru-paru.

“Pada kontrol pertama tidak ada masalah dan lancar-lancar saja. Namun pada waktu akan kontrol yang kedua, saya disuruh untuk meminta surat rujukan dari faskes tingkat pertama (FKTP). Disinilah kemudian ada persoalan, karena FKTP tidak bisa memberikan rujukan untuk langsung ke RSAL, namun harus ke rumah sakit (RS) tipe C terlebih dahulu,” jelasnya.

Sejujurnya, lanjut Astrid, ia agak bingung juga karena memang tidak terlalu memahami aturan di BPJS Kesehatan. Dan meski sudah menjelaskan panjang lebar bahwa selama ini suaminya dirawat di RSAL dan semua rekam medisnya ada di sana, namun FKTP tetap tidak bisa memberikan rujukan langsung ke RSAL.

Baca juga : Amalia : Tanpa BPJS Kesehatan, Apa Yang Akan Terjadi Pada Anak Saya?

“Akhirnya disepakatilah bahwa suami saya harus dirujuk ke RS Williambooth. Di sinilah kemudian timbul masalah lagi karena saya harus mengambil berkas dan hasil tes terakhir suami saya di RSAL dan membawanya ke Williambooth. Namun sialnya, sesampai di RS Williambooth karena kesiangan, dokter spesialis paru-parunya sudah tutup,” jelas Astrid, sambil menambahkan bahwa akhirnya ia terpaksa harus kembali lagi keesokan harinya.

Setelah kemudian keesokan harinya datang ke RS Williambooth dan menjalani pemeriksaan darah lagi dan lainnya, serta melihat hasil tes lab yang diambil dari RSAL, dokter di Williambooth malah menyampaikan ada kemungkinan penyakit TBC.

“Saya jadi tambah bingung, karena dari hasil lab dari RSAL jelas tertulis radang paru2 akut/kronis (cenedrung sebagai Pneumonia). Karena itulah kemudian saya meminta dokter untuk membuat rujukan ke RSAL supaya diagnosa dan perawatannya bisa konsisten karena selama ini sudah di RSAL,” jelasnya.

Namun, lanjut Astrid, meski kemudian dokter RS Williambooth memberikan rujukan ke RSAL, dia tidak bisa langsung mendapatkan perawatan untuk suaminya karena harus dijadwalkan lagi.

“Ya mau gimana lagi mas, saya hanya bisa ngikuti aturan yang berlaku di rumah sakit, meski saya juga merasa kasihan pada suami saya karena obatnya sudah habis dan dia merasakan kesakitan,” ujarnya dengan nada sedih.

Rencananya, Rabu (2/12/2020) ini ia akan membawa suaminya untuk kontrol di RSAL.

“Secara keseluruhan, meski saya pakai kartu BPJS Kesehatan, pelayana yang diterima suami saya sangat bagus dan gak ada masalah. Hanya persoalan rujukan di FKTP untuk rawat jalan itu saja yang cukup merepotkan buat saya karena harus bolak balik ke rumah sakit yang berbeda,” ungkap Astrid. (JM01)